Sebarkan berita ini:

PrieSEMARANG[SemarangPedia] – Santai humoris namun kritis adalah suatu citra  tersendiri yang melekat  pada sosok pria Prie GS yang terlahir menjadi seorang budayawan dengan memiliki ciri tersendiri, bukanlah suatu hal yang direncanakan.

Prie GS memang menjadi seorang seniman atau budayawan  yang selama ini merupakan cita-cita bagi sebagian banyak orang, Namun, berbeda dengan pria yang memilki nama asli Supriyanto GS yang tanpa sengaja oleh masyarakat justru mendapat julukan sebagai seniman dan budayawan.

Prie GS lahir di Kendal, Jawa Tengah dan dia mengawali karirnya sebagai jurnalis di harian umum terbitan Semarang, Jawa Tengah. Selain dikenal sebagai kartunis juga tersohor sebagai penyair, penulis, dan public speaker di berbagai seminar, diskusi serta menjadi host untuk acaranya sendiri, baik di radio maupun televisi.

Prie merupakan salah seorang yang menceburkan diri dalam dunia kreativitas menggambar  seperti kawan lainnya, bahkan dia pun mengirimkan karya-karya kartun ke berbagai media massa. Bahkan juga belajar khusus kepada kartunis kawakan G.M. Sudarta.

Selepas lulus SMA, Prie GS melanjutkan pendidikan di jurusan seni musik, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni. Di falkutas inilah kemampuannya semakin terasah tajam dan mengawali karirnya sebagai wartawan.

Sebagai wartawan yang dikaruniai talenta seni, Prie lebih banyak memegang rubrik-rubrik bermuatan kesenian, sembari secara rutin dan tidak perbah lepas ikut menggambar kartun setiap hari Minggu pada satu harian cukup ternama di Jawa Tengah.

Pilihannya di dunia kartun bukan tanpa alasan, sebagai mahasiswa jurusan seni musik, dia pun pernah memperdalam permainan piano dan gitar klasik, tapi baginya, musik bukan jalan hidupnya, hingga akhirnya memilih menjadi seorang kartunis sampai sat ini.

Prie GS juga pernah menggelar pameran kartun di Tokyo, Jepang atas undangan The Japan Foundation, di Negara sakura itu banyak ilmu yang didapat terutama tatkala punya kesempatan berdiskusi dalam satu meja dengan para komikus dan animator tersohor di negeri itu.

Pilihan pria kelahiran 2 Februari 1965 ini untuk menjadi seorang kartunis  ternyata bukanlah pilihan yang salah,  meski tidak menjatuhkan pilihan kepada dunia musik sebagai jalan hidupnya dan  prestasinya di dunia kartunis ini justru luar biasa.

Dari awal karir di dunia kartunis Prie GS  ditunjukan dengan mengawali karir di salah satu media lokal yang ada di Jawa Tengah pada 1987, Namun berbanding terbalik dengan awal karirnya sebagai seorang jurnalis.

Prie GS saat ini justru banyak dikenal sebagai seorang seniman atau budayawan ketimbang sebagai jurnalis media cetak. Hal ini tentu tidak mengherankan karena sebagai seorang wartawan yang dikaruniai talenta seni, dia lebih sering diberikan rubric-rubrik yang bertemakan kesenian dan setiap hari terbitan Minggu, bahkan secara rutin Prie GS diminta untuk menggambar kartun di media cetak dimana dia berkerja.

Dunia kartunis bukanlah satu-satunya yang ditekuni oleh pria yang sangat menyukai masakan ibunya in. Keputusan Prie GS untuk memperdalam ilmu jurnalistiknya di Universitas dr. Soetomo Jakarta sempat menghantarkannya menjadi pemimpin redaksi salah satu tabloid lokal yang ada di Jawa Tengah.

Bukan hanya berhasil menghantarkan seorang Prie GS sebagai pemimpin redaksi,  pendalamannya di dunia jurnalis juga menghantarkannya sebagai seorang novelis. Banyak judul karya yang telah ditulis oleh Prie GS di antaranya, Nama Tuhan di Sebuah Kuis pada 2003. Merenung sampai mati pada 2004 dan beberapa novel bergenre remaja seperti More Than Love dan Just For Love.

Satu karya yang membuat dirinya dijuluki sebagai seorang budayawan adalah berjudul Mari Menjadi Kampungan atau dengan nama lain catatan harian seorang budayawan.

Sebagai seorang jurnalis, Prie GS juga turut berkontribusi dalam berbagai acara sejumlah medi lokal di antaranya: menjadi penulis scenario sketsa Indonesia menjadi pengisi tajuk smartorial di satu radio lokal di Kota Semarang dan  menjadi host walikota silaturahmi dan obrolan Simpang Lima di televisi lokal Jawa tengah.

Talenta di bidang seni yang dimiliki pria ini juga menghantarkannya unuk menjadi seorang aktor dengan bergabung di Teater Dhome Semarang. Saat pertama terjun ke dunia akting Prie GS bergabung di satu repertoar karya Arifin C. Noer yang berjudul Umang-Umang Atawa Orkes Madun, sedangkan di kelompok teater lain yakni Teater Lingkar Mas Prie lebih banyak menulis skenario drama dibandingkan berakting.

Kemampuan Prie GS lain ditunjukannya saat bergabung dengan Teater Aktor Studio yakni dengan menjadi illustrator music untuk repertoar Jembatan Mberok.

Hidup sebagai seorang wartawan, penulis kolom, maupun seorang kartunis tentunya membuat wawasan Mas Prie ini semakin luas, bahkan jam terbang yang dikumpulkan di dunia kesenian dan jurnalistik membawanya terjun ke ranah lain yakni sebagai publik speaker. Pada ranah ini dia sering diundang sebagai pembicara,  motivator dan pengasuh acara bertemakan budaya.

Satu yang pernah disampaikan Mas Prie ketika menjadi public speaker di Taman Budaya Raden Saleh Semarang adalah pekerjaan “tidak jelas” yang dimiliki oleh Prie GS itulah yang justru membawanya menjadi penceramah lintas tema.  Mulai dari berbicara tentang kesenian,  budaya,  politik,  hukum  hingga ekonomi.

Kondisi itulah, publik saat ini lebih mengenal sosok Prie GS sebagai budayawan dan menjadi kebanggaan seorang Prie GS. Banyak masyarakat bertanya mengapa pria yang memiliki hobi bermain piano ini mendapatkan julukan GS yang berarti Great Spirit? dan apakah nama itulah yang membuatnya lebih di kenal masyarakat sebagai sosok seorang budayawan?. Yah menurutnya julukan itulah yang lebih mengena di masyarakat/dan menjadi icon nama baginya.

Harapan setiap orang adalah suatu hal yang selalu di angankan dan dibayangkan namun belum dapat terealisasikan, tapi bagi Mas Prie hidup ini adalah sesuatu yang harus dijalani seperti hal nya air mengalir dimana sebagai manusia hanyalah menjalani takdir yang telah digariskan padanya. (rs)

 

246
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>