Sebarkan berita ini:

11-KopiSEMARANG[SemarangPedia] – Produksi kopi hasil panen petani di berbagai daerah sentra produksi tahun ini belum mampu menutup kekurangan yang dihasilkan tahun lalu, akibat musim kemarau yang berkepanjangan atau El Nino yang kurang mendukung.

Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jawa Tengah Moelyono Soesilo mengatakan cuaca yang tidak sesuai seperti La Nina pada Juli-September tahun ini belum bisa menutup kekurangan produksi kopi tahun lalau yang relatif kecil.

Tahun lalu, lanjutnya, produksi kopi hasil panen petani di berbagai daerah sentra produksi merosot, akibat imbas musim kemarau berkepanjangan atau El Nino.

Semestinya, dia menambahkan La Nina yang terjadi di Indonesia membawa berkah bagi pertanian, termasuk petani kopi. Namun, harapan itu tidak terwujud  karena kemarau yang berkepanjangan.

Menurutnya, eksportir kopi belum bisa merasakan dampak positif atas La Nina yang semestinya membuat tanaman kopi lebih bagus ketimbang tahun lalu.

Produksi kopi hasil pamnen petani di Jateng pada semester I/2015 mampu mencapai 3.000 ton, namun periode sama tahun ini hanya menghasilkan produksi kopi sebanyak 1.420 ton.

Penurunan produksi kopi, lanjutnya, akibat musim kemarau berkepanjangan yang menyebabkan pembuahan kopi mengalami keterlambatan. Dampaknya pun tidajk hanya di Jateng, tetapi juga di daerah lainnya.

11-Petani KopiSecara nasional produksi kopi menurun 45% dari sebelumnya yang mampu menghasilkan 160.000-170.000 ton pada semester I/2015, namun tahun ini merosot menjadi 72.000 ton dalam periode sama.

“Kondisi itu, mencerminkan La Nina tahun ini yang semestinya menghasilkan produksi lebih banyak tidak bisa mampu mendongkrak defisit kopi,” tuturnya, Kamis. (11/8)

Di Jateng sentra daerah produksi kopi terbesar meliputi Temanggung, Wonosobo, Pati, Purbalingga dan Kabupaten Semarang.

Dia mengatakan panen kopi selama ini tergantung dengan cuaca yang normal seperti pada tahun sebelumnya hingga hasil produksinya menjadi melimpah.

Meski produksi menurun, kata Moelyono, namun hasil panen kopi petani masih mampu memenuhi kebutuhan ekspor ke berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Eropa, Jerman, Belanda, Inggris, Arab Saudi, Mesir dan sejumlah negara di kawasan Eropa.

Selama ini ekspor kopi terbesar di Asia untuk tujuan Malaysia dan Filipina.

Ketua Gabungan Kelompok Petani Kopi Lereng Gunung Kelir Kabupaten Semarang Ngadiyanto mengatakan produksi kopi masih dipengaruhi cuaca yang kurang mendukung saat ini. Jika tidak ada anomali cuaca, produksi kopi bakal meningkat sesuai yang diharapkan.

Sebaliknya, jika musim hujan berkepanjangan menyebabkan pembuahan kopi akan mengalami kemunduran dari jadwal yang biasanya jatuh pada September.

“Patokannya pada musim. Kalau bagus, produksi kopi bisa semakin banyak,” ujarnya.(RS)

170
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>