Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Badan Usaha Milik Negara (BUMN) semakin menunjukkan peranannya dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui program kemitraan usaha kecil, sekaligus mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan hingga terciptanya pemerataan pembangunan melalui perluasan lapangan kerja, kesempatan berusaha dan pemberdayaan masyarakat.

Salah Satu BUMN, PT Pertamina (Persero) sebagai perusahaan energi nasional berkomitmen mengelola kegiatan Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) yang mencakup program Corporate Social Responsibility (CSR), program Bina Lingkungan (BL) dan Program Kemitraan (PK) yang berkelanjutan.

Pertamina juga senantiasa memprioritaskan keseimbangan dan kelestarian alam, lingkungan dan masyarakat. Dengan menyejahterakan manusia, alam, dan lingkungan, Pertamina akan mampu mencapai pertumbuhan bisnis yang positif dan berkelanjutan

Kebijakan Pertamina menetapkan beberapa inisiatif strategis sebagai komitmennya diwujudkan di antaramya ikut merealisasikan program kemitraan dengan memberikan bantuan terhadap pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di berbagai daerah.

Di wilayah Jawa Tengah dan DIY melalui PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region (MOR) IV telah merealisasikan penyalurkan dana program kemitraan kepada ratusan pelaku UMKM mitra binaan.

Penyaluran dana kemitraan itu, sebagai upaya untuk membantu serta meningkatkan kemampuan para pelaku UMKM untuk menjadi usaha yang tangguh dan mandiri.

Program kemitraan ini, merupakan bentuk tanggung jawab sosial kalangan BUMN kepada masyarakat dan bantuan dana diberikan secara bergulir.

Sejak Program Kemitraan digulirkan pada 1993, Pertamina telah mengucurkan bantuan modal sebesar Rp3,5 triliun yang disalurkan kepada sekitar 63.000 UMKM mitra binaan Pertamina di seluruh Indonesia.

Sementara di wilayah Jateng dan DIY, Pertamina MOR IV telah menyalurkan bantuan Program Kemitraan BUMN kepada 253 UMKM sebesar Rp19 milyar. Jumlah 253 UMKM itu sejak Januari hingga September 2020, sedangkan bantuan senilai itu melampaui target pencapaian Program Kemitraan yang ditetapkan secara internal sebesar Rp18 milyar hingga akhir 2020.

Program Kemitraan juga merupakan salah satu program kepedulian kepada masyarakat khususnya para pelaku UMKM yang ditugaskan kepada BUMN dan telah diatur dalam Peraturan Menteri Peraturan Menteri BUMN PER-02/MBU/04/2020 tanggal 2 April 2020 tentang Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL).

Meskipun telah memenuhi capaian target Program Kemitraan pada 2020, Pertamina akan terus menambah penyaluran dan pendampingan kepada UMKM khususnya di Provinsi Jawa Tengah dan DIY hingga akhir 2020.

Secara keseluruhan jumlah mitra binaan yang masih aktif dalam Program Kemitraan 3 tahun terakhir ada 834 UMKM. Mitra binaan tersebut berasal dari berbagai jenis sektor di antaranya sektor industri, perdagangan, pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, hingga jasa.

Percepatan Pertubuhan Ekonomi

Program Kemitraan BUMN juga bertujuan untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan mengembangkan para pelaku UMKM hingga menjadi mandiri ekonomi atau berdikari.

Bantuan yang diberikan berupa dana pinjaman untuk modal usaha hingga maksimal Rp200 juta. Selain itu, Pertamina juga memberikan bantuan pendampingan dan pembinaan kepada mitra binaan.

Bahkan program ini diharapkan mampu memberikan dampak baik terhadap pelaku UMKM di Jateng dan DIY, sebagai upaya untuk dapat menjadi tangguh dan mandiri bagi keberlangsungan usahanya ke depan.

Selain membantu meningkatkan kemandirian dan pengembangan usaha, program kemitraan diselenggarakan sebagai upaya merangkul pelaku UMKM terutama yang mengalami kesulitan mendapatkan akses ke perbankan (non bankable).

Seluruh BUMN ditugaskan oleh Kementerian BUMN untuk membantu para pelaku UMKM yang kesulitan tersebut, sehingga nawa cita untuk mewujudkan kemandirian ekonomi dapat terwujud.

Nilai permodalan yang bisa didapatkan oleh calon mitra binaan (sebutan untuk peserta program kemitraan) maksimal senilai Rp200 juta dengan jangka waktu/tenor maksimal 3 tahun. Sedangkan jasa administrasi dari permodalan tersebut sebesar 3% per tahun dan menurun mengikuti sisa pinjaman.

Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Pertamina senantiasa juga mendukung program pemerintah untuk memeratakan penyaluran energi seperti BBM dan LPG kepada masyarakat.

Namun, di sisi lain Pertamina juga memiliki Tanggung Jawab Sosial salah satunya dengan menyalurkan program CSR serta PKBL kepada masyarakat untuk mencapai tujuan nawacita kemandirian ekonomi.

Di Jateng dan DIY, Pertamina MOR IV menyalurkan bantuan Program Kemitraan kepada para pelaku UMKM di berbagai daerah meliputi Kabupaten Semarang, Boyolali, Jepara, Semarang, Sleman dan daerah lainnya dengan usaha di berbagai sektor.

Wahyu Wibowo merupakan salah satu penerima manfaat program kemitraan Pertamina MOR IV pada periode Februari 2020. Jenis usaha yang dimilikinya jasa perdagangan dan berhasil mendapat bantuan permodalan senilai Rp100 juta.

“Program ini sangat bermanfaat bagi saya khususnya selaku UMKM untuk mengembangkan usaha. Banyak keunggulan yang dapat saya terima di antaranya adalah pinjaman modal dengan bunga lunak dan pembinaan serta pendapingan Pertamina,” tutur Wahyu.

Senada Dian Anugerah Dewi menuturkan salah satu tujuan mengikuti program kemitraan Pertamina ini adalah program pembinaan yang dilakukan oleh Pertamina kepada usaha sangat baik.

“Program pembinaan yang ditawarkan dapat mendukung usaha untuk terus maju dan berhasil. Saya salut melihat mitra binaan Pertamina ada dimana-mana dan aktif mengikuti pameran di berbagai wilayah,” ujar Dian yang memiliki usaha dibidang industri kain ecoprint.

Sebelum UMKM berhasil menjadi Mitra Binaan Pertamina, mereka telah melalui beberapa tahapan, di antaranya pengajuan formulir keikutsertaan program dan telah disurvei ke lokasi usaha.

Tujuan dari survei ini untuk melakukan verifikasi atas usaha yang dijalankan oleh calon mitra binaan Pertamina.

Kemitraan itu, juga menyentuh sejumlah pesantren, pada 2019 beberapa pesentren di Kabupaten Boyolali berhasil menjadi mitra binaan melalui program kemitraan Pertamina.

Program ini terus bergulir dan penyaluran saat ini telah direalisasikan senilai Rp1,8 miliar untuk 18 mitra binaan yang masih berasal dari pesantren di Kabupaten Boyolali.

Selain berhasil memperoleh bantuan pinjaman permodalan dari Pertamina, sejumlah pesantren tersebut juga bermigrasi untuk menggunakan LPG Non Subsidi 12 kg, setelah sebelumnya menggunakan LPG Subsidi 3 Kg untuk kebutuhan sehari-harinya.

Sementra itu, Bambang Tri Mulyono, pemilik usaha Bakmi Jawa Mbah Harjo asal Bantul menuturkan senang telah menjadi bagian dari Program Kemitraan Pertamina sejak 2019. Menurutnya, ada banyak manfaat yang dirasakan setelah menjadi mitra binaan Pertamina.

“Pinjaman dana dari Pertamina senilai Rp75 juta itu  sangat membantu saya untuk menambah peralatan dan kebutuhan usaha. Biaya administrasinya juga hanya 3%, jauh lebih rendah daripada pinjaman ke bank, sehingga pengembaliannya tidak begitu memberatkan,” tutur Bambang.

Bambang berterima kasih karena kerap diikutkan dalam kegiatan pembinaan dan perluasan akses pasar sehingga usahanya semakin banyak dikenal pelanggan.

“Produk saya ini juga semakin dikenal banyak pelanggan bukan hanya di sekitar Yogyakarta saja, tapi di Jakarta dan kota-kota lainnya bahkan sudah sampai Jedah, Arab berkat pameran UMKM yang disponsori oleh Pertamina,” tutur Bambang pada saat kegiatan webinar Nongkrong Bareng Pertamina 10 September 2020 lalu.

Dia menuturkan Pertamina juga senantiasa memberikan kesempatan pelatihan untuk mitra binaan seperti bagaimana cara mengelola keuangan hingga pemasaran secara online. Bahkan Pertamina juga kerap membantu usaha mitra binaannya bertahan di tengah pandemi Covid-19 yang saat ini sedang terjadi sejak awal tahun.

“Kami bersyukur sekali karena pada saat pertengahan April lalu, usaha makanan kami mendapat oderan khusus dari Pertamina untuk dijadikan paket bantuan Pertamina Peduli Covid-19. Tentunya ini sangat membantu kami untuk bertahan dari perekonomian yang melesu akibat pandemi,” ujarnya.

Salah satu UMKM mitra binaan Pertamina lain, Abdul Ghofur melalui usaha gallery Duta Craftindo yang berada di Desa Branjang, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, sangat merasakan manfaat bantuan tersebut.

Abdul Ghofur mengubah bahan mentah alami yaitu akar kayu jati alami menjadi barang kerajinan (craft) yang memiliki nilai lebih dari segi estetika dan nilai riil.

Ghofur memulai usahanya sejak 2010 dan bergabung sebagai mitra binaan Pertamina sejak 2013.

“Banyak manfaat yang saya rasakan sebagai mitra binaan Pertamina, di antaranya adalah kemudahan dalam mendapatkan pinjaman lunak, sehingga memudahkan kami untuk mengembangkan usaha,” tutur Ghofiur.

Produk yang dihasilkan melalui Gallery Duta Craftindo tidak hanya diminati oleh konsumen lokal, namun telah menembus pasar mancanegara.

“Untuk lokal saya memasok salah satunya ke Nirwana Resto & Stable untuk produk patung kuda dan sebagainya. Sedangkan untuk mancanegara mayoritas menyukai jenis produk berupa patung kayu seni instalasi dari akar jati alami dan beberapa negara yang pernah saya pasok yaitu Malaysia, UK, USA, Jerman, Irlandia, Belgia dan UEA,” ujarnya.

Pertamina Perluas Pertashop

Selain progam kemitraan, Pertamina juga membuka peluang kerja sama dan kemitraan bisnis hingga kawasan pedesaan melalui kemitraan bisnis Pertashop. Program kemitraan ini terbuka bagi koperasi serta UMKM yang sudah berbadan hukum CV dan atau PT di seluruh Indonesia.

Pertashop adalah lembaga penyalur resmi Pertamina dengan skala kecil untuk melayani kebutuhan BBM Non Subsidi, LPG Non Subsidi dan juga produk ritel Pertamina lainnya yang tidak atau belum terlayani oleh lembaga penyalur resmi.

Pertashop juga dapat menjadi peluang usaha bagi para calon mitra di pedesaan untuk meningkatkan kegiatan ekonomi, sehingga diharapkan dapat memaksimalkan potensi desa, dan meningkatkan kemakmuran serta kesejahteraan.

Program pembangunan Pertamina Shop (Pertashop) di seluruh wilayah Indonesia, hingga Agustus 2020, mini outlet Pertashop telah hadir sebanyak 147 titik penyaluran di 19 Provinsi.

Pertashop merupakan lembaga penyalur Pertamina berskala kecil, untuk melayani kebutuhan konsumen BBM yang tidak/belum terlayani oleh lembaga penyalur resmi Pertamina lainnya seperti SPBU. Selain BBM, Pertashop juga menyediakan produk unggulan Pertamina yang lain seperti LPG Bright Gas dan Pelumas.

Hingga saat ini pembangunan Pertashop di Pulau Jawa dan Bali telah mencapai 110 penyalur, sementara di luar Jawa telah beroperasi 37 penyalur. Kemajuan pembangunan outlet signifikan tercatat pada Juli 2020 sebanyak 88 penyalur, sehingga pada minggu pertama Agustus 2020 telah mencapai 147 penyalur.

Pembangunan Pertashop akan terus berlanjut merata seluruh kecamatan yang belum memiliki lembaga penyalur BBM dan LPG hinga semua kecamatan terwujud.

Pertamina akan memprioritaskan lembaga desa dan usaha UMKM sebagai pengelola Pertashop, sejalan dengan Program Pertamina One Village One Outlet sehingga ke depan pemerintahan desa memiliki pusat ekonomi baru.

Bahkan di wilayah Jateng dan DIY, PT Pertamina MOR IV hingga Agustus 2020 telah menyediakan sebanyak 70 unit Pertashop, sebagai wujud komitmen dalam mendukung program pemerataan energi di pelosok.

Penyediaan Pertashop di dua provinsi sebanyak itu, tercatat 64 unit di Jateng dan sisanya 6 unit di DIY.

Pertashop di Jateng sebanyak itu, tiga unit di antaranya berada di wilayah Kabupaten Tegal meliputi Desa Talang, Desa Pesarean dan Desa Bumijawa.

Pengadaan Pertashop ini, sebagai wujud komitmen dalam mendukung program pemerataan energi di pelosok dan telah diimplementasikan PT Pertamina (Persero) bersama Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia melalui Nota Kesepahaman yang ditandatangani oleh Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati dan Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, pada Februari yang lalu.

Kerja sama tersebut berupa perluasan penyaluran BBM dan elpiji melalui pembangunan Pertashop di desa-desa yang berada di wilayah NKRI. Khususnya yang belum terjangkau lembaga penyalur atau layanan produk Pertamina yaitu SPBU.

Meski dioperasikan di tengah desa, Pertashop yang dijalankan Pertamina telah memenuhi seluruh aspek keamanan dan keselamatan atau HSSE (Health, Safety, Security & Environment) dalam pengoperasiannya, sehingga aman untuk dioperasikan di tengah masyarakat pedesaan.

Pertashop merupakan satu-satunya lembaga penyalur produk Pertamina yang legal atau memiliki izin resmi dari Pertamina selain SPBU.

Pertamina juga membuka peluang kerja sama denhan Pemerintah Daerah (Pemda) maupun pihak lainnya yang berminat untuk menjalankan usaha Pertashop dan utamanya belum tersedia layanan penyalur BBM dan LPG di tingkat desa atau kecamatan.

Upaya itu untuk mempercepat pencapaian OVOO dan juga dapat meningkatkan perekonomian desa.

Pertamina juga akan memprioritaskan lembaga desa dan usaha UMKM sebagai pengelola Pertashop, sejalan dengan Program Pertamina One Village One Outlet sehingga ke depan  pemerintahan desa memiliki pusat ekonomi baru.

Dengan dukungan Pemerintah dan seluruh stakeholders, program Pertashop Pertamina diharapkan dapat melengkapi kesuksesan Program BBM Satu Harga yang saat ini telah dinikmati masyarakat di wilayah 3T.  (Rachmat Sujianto)

 

62
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>