Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Proses sertifikasi dan sistem penilaian tenaga ahli bidang usaha jasa konstruksi di Indonesia selama ini, dinilai masih banyak kelemahan dalam pelaksanaannya.

Kelemahan tersebut di antaranya peraturan lembaga pelaksana masih longgar di beberapa daerah, syarat pendidikan yang belum sesuai dan  portofolio pengalaman kerja yang kurang mencerminkan pengalaman sesungguhnya,.

Hal ini menjadi ringkasan disertasi Putri Anggi Permata Suwandi dalam ujian terbuka untuk meraih gelar doktor Teknik Sipil  Fakultas Teknik Program Pascasarjana Universitas Diponegoro di ruang sidang Gedung Pascasarjana Undip Jl Imam Bardjo, Semarang, Selasa (10/7).

Dalam desertasinya, dia mengangkat judul Kajian Pelaksanaan Sertivikasi Kompetensi Bagi Tenaga Ahli Konstruksi di Indonesia.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Dosen Fakultas Tehnik Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) tersebut dalam usaha jasa konstruksi, meski banyak tenaga ahli yang menyadari sertifikasi itu hal penting, namun tidak semua memilikinya karena berbagai alasan. Padahal sudah diakui pemilik proyek tenaga ahli sertifikasi juga memiliki dampak positif bagi tenaga ahli itu sendiri dan perusahaan.

“Dalam proses sertifikasi test tertulis belum dilakukan karena belum ada instrumennya, wawancara tidak selalu dilakukan. Kemudian pelatihan yang kurang terkontrol oleh Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK),” ujarnya.

Selain itu, dia menambahkan, verifikasi dan validasi oleh asosiasi masih ada yang asal-asalan.

Menurutnya, dalam proses sertifikasi juga banyak celah yang masih dimanfaatkan oknum tertentu yang ingin mendapatkan Sertifikasi Keahlian Kerja (SKA) dengan mudah, hingga mengkibatkan berkurangnya kepercayaan terhadap SKA tersebut karena kurang mencerminkan kompetensi sesungguhnya.

“Selain itu muncul dampak lain yaitu SKA terbit tanpa sepengetahuan pemiliknya dan perpindahan pembuatan SKA ke daerah yang dianggap pelaksanaan aturannya lebih longgar,” tuturnya.

Rektor UPGRIS Muhdi yang hadir dalam ujian terbuka tersebut mengatakan Anggi merupakan dosen ke-57 yang meraih gelar doktor. Bahkan pihaknya terus melakukan peningkatan pengembangan kualitas bukan hanya di Program Studi kependidikan, tetapi lebih luas ke program Studi nonkependidikan.

“Anggi adalah doktor ke-3 pada program studi teknik sipil UPGRIS dan UPGRIS akan terus menambah doktor baru,” tutur Muhdi.

Menurutnya, dengan bertambahnya Doktor baru diharapkan dapat memberikan kontribusi lebih bagi pengembangan program studi non kependidikan, yang saat ini tengah berupaya meningkatkan kualitas dalam menghadapi persaingan perguruan tinggi yang semakin ketat. (RS)

 

6
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>