Sebarkan berita ini:

3-demo-wartawanUNGARAN[SemarangPedia] – Sejumlah jurnalis yang bertugas di wilayah Kabupaten Semarang dan Salatiga menggelar aksi keprihatinan atas peristiwa kekerasan oknum TNI terhadap wartawan Madiun, Minggu (2/10).

Para wartawan menilai kejadian tersebut semestinya bisa dihindari jika reformasi di tubuh TNI berjalan dengan baik.

“Kejadian itu menunjukkan ada yang salah dalam pembinaan moral dan mental di tubuh TNI. Kami minta Panglima TNI turun tangan  menyikapi insiden ini,” ujar Bowo Pribadi, jurnalis dari Republika.

Aksi para pewarta yang tergabung dalam Forum Komunikasi Wartawan Kabupaten Semarang (FKWKS) dan Forum Jurnalis Salatiga (FJS) ini digelar di Alun-alun Bung Karno, Kabupaten Semarang.

Mereka mengadukan kasus kekerasan itu ke patung Bung Karno yang berdiri tegak di tengah alun-alun. Pengaduan kepada sosok patung pendiri bangsa ini sebagai simbolisasi rasa pesimis atas penyelesaian beragam tindakan represif oknum TNI terhadap profesi wartawan di Indonesia.

“Kasus kekerasan oknum TNI terhadap jurnalis tidak hanya kali ini. Kami pesimis siapa yang akan mengakhiri ini makanya kami simbolisasikan dalam bentuk pengaduan ke patung Bung Karno,” ujar Ketua FKWKS Hendro Teguh.

Sebuah bendera merah putih dikibarkan di atas tripot kamera. Perlengkapan liputan seperti tape recorder, kamera, blocknote serta kartu pers diletakkan di bawah kaki patung Bung Karno. Kegiatan ini sekaligus sebagai bentuk protes dan keprihatinan, sepasang sepatu yang biasa dikenakan anggota TNI diposisikan menginjak kartu pers milikjurnalis dari Net TV.

Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, para jurnalis selanjutnya bergantian berorasi dan membacakan puisi. Puisi berjudul Panglima Ku yang ditulis dan dibacakan sendiri oleh Hendro Teguh menjadi sinyal protes atas masifnya kasus kekerasan oknum TNI terhadap jurnalis.

“Panglimaku, suruh prajuritmu lepaskan senjata untukku. Tangan kosong, kota memeluk,” demikian bunyi petikan puisi dari kontributor Kompas TV ini.

Selain berorasi dan membacakan puisi, FKWKS dan FJS menyampaikan lima butir pernyataan sikap. Di antaranya mendorong Dewan Pers dan Komnas HAM untuk mengusut tuntas setiap tindakan yang mengancam keselamatan para jurnalis.

Mendesak Denpom TNI Madiun untuk transparan dalam penyelidikan dan mempublikasikan oknum TNI yang melakuan penganiayaan tersebut.

“Kami sepakat untuk memboikot kegiatan HUT TNI, hingga kasus ini diusut tuntas sesuai hukum yang berlaku,” tukas Yudha, kontributor Net TV,” ujarnya.

Aksi keprihatinan berakhir dengan bersama-sama memekikkan kata Merdeka dan kata Belum secara bergantian dan bersahutan.

Seperti diketahui, kejadian di Madiun dua hari lalu menimpa kontributor Net TV Madiun, Jawa Timur, Soni Misdananto. Kekerasan dialami Soni usai kejadian kecelakaan lalu lintas anggota perguruan Pencak Silat Setia Hati (PSSH) Teratai dengan masyarakat di perempatan Ketekan, Madiun.

Saat itu sejumlah aparat TNI AD, diduga dari Batalyon Infanteri Lintas Udara 501 Madiun memukuli anggota PSSH Teratai yang diduga sebagai penyebab kecelakaan.

Kejadian tersebut langsung diabadikan oleh Soni dengan kameranya. Mengetahu direkam, Soni diringkus dan dibawa ke pos terdekat. Di tempat tersebut, korban dianiaya. Memori kamera juga disita dan dirusak oleh salah satu oknum anggota TNI, Prada He.

74
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>