Sebarkan berita ini:

13-pohon-tumbangSEMARANG[SemarangPedia] – Sekitar 70%  pohon peneduh jalan yang terdapat di pinggir berbagai jalan di wilayah Kota Semarang segera diremajakan, mengingat kondisi pohon yang sebagian besar jenis angsana yang berusia hampir 30 tahun, bahan  mulai rapuh sehingga berpotensi roboh.

Kepala Bidang Pertamanan, Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Semarang Budi Prakosa mengatakan pohon peneduh di pinggir jalan di wilayah Kota Semarang perlu segera  diremajakan.

Menurutnya, pohon peneduh yang sebagian besar jenis angsana usianya hampr 30 tahun, sehingga rawan rapuh dan roboh dan berpotensi menimbulkan korban jiwa yang tertimpa pohon roboh itu.

“Pohon peneduh itu sebagian besar sekitar 70% jenis angsana, kondisinya secara umum hampir melampaui batas usia sehat,” ujarnya di Semarang.

Dia menambahkan batas usia sehat pohon yang berada di pinggir jalan itu sudah using dan terlihat sejumlah ciri-ciri di antaranya beberapa bagian sudah rapuh dan rawan patah sehingga jika terjadi hujan lebat dan angin kencang berpotensi tumbang.

Apalagi, lanjutnya, karakteristik pohon angsana yang tekstur dahannya gampang patah dengan kontur tajuk daunnya yang menjuntai ke bawah.

“Kondisi ini dipengaruhi juga oleh tumbuhnya yang juga kurang compatible, lahan yang sempit, kurang subur, dan penanaman bibit dari hasil stek yang akarnya menjadi kurang kuat,” tuturnya.

Menurutnya, penanaman pohon angsana itu, dimulai pada 1980-an yang awalnya hanya bersifat sementara, tetapi justru terus dipertahankan karena lebih cepat berkembang.

“Semula awalnya pohon akasia tetapi serbuknya membahayakan. Makanya, tahun 80-an diganti pohon angsana. Namun, ternyata cenderung ‘getas’, sehingga pohon-pohon angsana ini akan diremajakan lagi,” ujarnya.

Dia menambahkan, ke depannya pemilihan jenis pohon akan dikaji secara cermat dengan mengedepankan manfaat ekologis, estetika, dan sosiologis.

“Terdapat beberapa alternatif jenis pohon lain yang bisa dipilih untuk penghijauan, seperti pohon tabebuya, spathodea, pule, atau bisa juga pohon trembesi, mahoni, atau asam,” tuturnya. (RS)

 

200
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>