Sebarkan berita ini:

7-ganjar-nundukSEMARANG[SemarangPedia] –Gubernur Jateng Ganjar Pranowo akan mengusulkan ke Pemerintrah Pusat untuk penelusuran dan pengecekan data kependudukan warga Indonesia di luar negeri agar mereka merasa aman, menyusul informasi Mendagri storage data kependudukan berada di luar negeri.

Ganjar mengatakan penelusuran dan pengecekan data kependudukan di luar negeri harus segera dilakukan, agar data kependudukan warga negara Indonesia bisa aman.

“Ketika Mendagri mengatakan storage kita tidak di Indonesia, tapi di luar negeri, cukup mengejutkan. Saya ingat betul waktu membuat undang-undang, seingat saya itu ada di Indonesia. Tapi jika data kependudukan tidak ada di Indonesia, masih di tempat asing, merupakan dalam penguasaan pemenang tender,” ujarnya dalam Rapat Paripurna dengan agenda Pendapat Gubernur terhadap Penjelasan atas Raperda tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil di Ruang Sidang Paripurna DPRD Provinsi Jawa Tengah, Jumat (7/10).

Kondisi itu, dia menambahkan masih ada kesempatan dalam penyusunan Perda, bahkan perlu menanyakan ke Pemrintah Pusat, sehingga data itu lebih aman dan diharapkan pansus DPRD Jateng bisa segera mengecek.

Ganjar juga gubernur mendukung Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil yang diusulkan Komisi A DPRD Jateng.

Dia mengharapkan dalam proses penyusunan raperda itu, panitia khusus (pansus) Raperda Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil dapat berkonsultasi dengan Kementerian Dalam Negeri secara detail.

“Dengan adanya kasus untuk mendapatkan e-KTP yang tidak mudah, pansus perlu memikirkan untuk berkonsultasi dengan pusat. Di mana provinsi  bisa menginisisasi untuk mendistribusikan sesuai  ketentuan dan aturan, sehingga tidak seperti ini kondisinya,” tuturnya.

Setelah ada perbaikan, lanjutnya, terhadap sistem administrasi kependudukan, aksesibilitas data kependudukan menjadi mudah. Namun, kemudahan itu perlu dipertimbangkan mengingat data yang mudah dibuka rentan digunakan untuk berbagai kepentingan.

“Jangan-jangan kalau aksesnya mudah, semua bisa baca. Apakah tidak sebaiknya kita mengecek dulu, mempertimbangkan dulu? mana data yang boleh dilihat, dan mana yang harus disimpan. Aksesibilitas itu tentu kita permudah, tapi sebatas mana. Jangan semua yang tersimpan dalam chip bisa diakses, itu bahaya,” ujarnya. (RS)

150
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>