Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Ratusan nelayan di Pantura Jateng, terutama di Kawasan Tambak Lorok Semarang menghentikan aktivitasnya, akibat memburuknya gelombang badai laut yang semakin mengkhawatirkan.

Gelombang tinggi disertai angin kencang yang terjadi beberapa hari ini, mengakibatkan para nelayan di kawasan Tambak Lorok Pesisir Kota Semarang menghentkan melaut, hingga menurunkan prukduktivitasnya dari hasil angkapan ikan.

Menurutnya, cuaca buruk akhir-akhir ini yang lebih dikenal kalangan nelayan sebagai musim barat telah menunjukkan puncak keganasannya yang sangat membahayakan bagi nelayan yang melaut.

Dia mengatakan kecepatan angin diperkirakan semakin tinggi dan gelombang laut pun sangat besar dan tidak memungkinkan kapal-kapal nelayan dapat berlayar normal di tengah laut.

“Sudah lebih dari tiga hari ini kami tidak melaut dan hanya mampu melakukan pekerjaan perawatan mesin-mesin kapal atau merajut jaring saja, karena gelombang badai laut semakin memburuk dan mengkhawatirkan,” ujar Sudarto nelayan Tambak Lorok Semarang, Kamis. (5/1)

“Kapal nelayan apa pun jenis kapalnya tidak akan mampu mengarungi lautan saat ini. Bisa jadi dalam relatif singkat akan digulung badai laut seperti yang menimpa kapal nelayan Tegal, Pekalongan dan Batang beberapa waktu lalu,” tuturnya.

Keenggan melaut juga terlihat di kawasan pesisir Tegal, Pekalongan dan Rembang, para nelayan di daerah tersebut lebih memilih menganggur ketimbang harus melawan maut di tengah laut.

“Ombak laut sangat besar, sehingga kapal gardan, pursesine dan cangkrik akan ditelan ombak jika mencoba melaut. Pokoknya kami memilih istirahat hingga batas waktu tertentu,” tutur Noercholis nelayan asal Desa Pacar, Kabupaten Rembang.

Merurutnya, kalau musim penghujan sering tidak melaut, kadang berangkat kadang tidak karena anginnya kencang dan gelombang tinggi, kalau melaut hanya di pinggir tidak berani ke tengah.

Seperti yang terlihat di tempat pelelangan ikan Tambak Lorok Semarang, sejumlah nelayan menyandarkan kapalnya lebih awal di pangkalan pendaratan ikan, lantaran kondisi gelombang tinggi. Meski demikian, hasil tangkapan yang tidak memuaskan tetap dibawa ke tempat pelelangan ikan untuk di jual.

Dia menuturan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, mereka tetap melaut meskipun di pinggiran dan hasil tangkapan ikan tidak seperti hari biasanya.

Para nelayan di desa Pacar, Krangan, Tanjungsari Demak hingga daerah Jepara kondisinya tidak jauh berbeda, mereka memilih mengurungkan niatnya untuk melaut, meski mereka akan dibayar lebih besar oleh para pengusaha pemilik kapal ikan.

“Semua jenis ikan hasil tangkapan nelayan yang di pelelangan di TPI mengalami penurunan tajam,” ujarnya. (HN/RS)

 

288
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>