Sebarkan berita ini:

15-Sidang Korupsi PasarSEMARANG[SemarangPedia]  – Mieke Sulistyorini, terdakwa kasus dugaan penyimpangan proyek pasar Jrakah Semarang senilai Rp2,7 miliar kembali disidangkan di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (15/8).

Saat dihadapan Ketua Hakim Anastacia Tyas, terdakwa menyebut Kepala Bidang Perencanaan dan Pembangunan Dinas Pasar Kota Semarang, Nurkholis, disebut mengatur permainan pelaksanaan proyek penyempurnaan Pasar Jrakah 2013 yang dikerjakan PT Indo Bumi Penta (IBP) asal Surabaya.

Dia mengungkapkan pekerjaan tidak selesai hingga batas waktunya, Namun adminstrasi sudah terbayar lunas 100%. Dalam proyek itu, Nurkholis selaku kuasa pengguna anggaran (KPA).

“Kemudian oleh Nurkholis, katanya pekerjaan tetap dilanjutkan dan pekerja disediakan pihaknya. Yang mennyampaikan orang saya yaitu Hendrawan,” tururnya.

Pekerja dari Nurkholis tersebut dipekerjakan untuk menyelesaikan proyek yang hingga 23 Desember 2013 progresnya belum mencapai 100%.

“Apakah terdakwa menyerahkan uang kepada Nurkholis,” tanya Hakim Anggota Ari Widodo pada Mieke.

Sebelumnya, pada sidang terdakwa lain yaitu Agus Widiatmono selaku PPKom, nama Nurkholis juga disebut telah ikut mengendalikan. Nurkholis diketahui sebagai orang yang menerintahkan pencairan anggaran 100%, meski mengetahui pekerjaan belum selesai pada batas waktunya.

Namun,oleh Mieke, dijawab dia tidak menyerahkan uang. Para pekerja dari Nurkholis tersebut digaji sendiri oleh Mieke selaku pelaksana proyek di bawah bendera PT Indo Bumi Penta.

Ketua Majelis Hakim Anastacia Tyas merasa ada yang janggal dalam keterangan terdakwa Mieke. Pasalnya, keterangannya Mieke sering berubah-ubah.

“Saya minta saudara terdakwa terus terang saja. Katakan apa adanya jangan ada yang ditutupi. Kami (hakim–red) sudah tahu kebenarannya. Kami hanya mencoba ingin tahu kejujuran terdakwa saja,” ujar Anastacia.

“Iya saudara dulu waktu kesaksian Gunawan tidak membantah sama sekali. Saksi-saksi lain menyatakan terdakwa yang mengatur pekerjaan. Kenapa sekarang jawabnya justru banyak tidak tahu?,” tutur Hakim Ari Widodo.

Pengakuan Mieke cukup mengejutkan. Dalam keterangannya dia tidak membantah kesaksian Gunawan karena diancam akan diberitahukan ke orang tua kalau sedang ditahan karena kasus korupsi.

“Gunawan memberiku pilihan yang sulit. Jika saya tidak ikuti, dia akan bilang ke orang tua. Padahal orang tua saya sudah tua dan punya penyakit jantung. Saya khawatir,” ujarnya.

Namun alasan Mieke tidak serta merta diterima hakim. Hakim Anastacia mengatakan jika dalam kenyataannya yang bersangkutan memang ditahan. Jika sejak awal Mieke terus terang, mungkin hakim akan mempertimbangkannya dalam menjatuhkan putusannya. (RS)

182
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>