Sebarkan berita ini:

DEMAK[SemarangPedia] – Remaja masjid se-Jawa Tengah menggelar deklarasi menolak dan melawan gerakan intolerasi, radikalisme, terorisme dan separatisme demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ketua Umum Pimpinan Wilayah (PW) Perhimpunan Remaja Masjid (PRIMA) Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Tengah bersama Ahsan Fauzi mengatakan deklarasi itu berupa lima poin ikrar meliputi ikrar melawan gerakan intolerasi, radikalisme, terorisme dan separatisme.

“Poin berikutnya, taat dan patuh terhadap Tuhan Yang Maha Esa, siap melakukan penguatan dan setia kepada Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai pedoman dalam berbangsa dan bernegara,”  ujar Ahsan usai prosesi deklarasi yang berlangsung di Aula Kantor Kemenag Kabupaten Demak, Rabu (24/3).

Menurutnya, poin selanjutnya adalah bertekad menjadikan rumah ibadah sebagai pusat gerakan moderasi beragama. Sedangkan poin terakhir adalah penguatan toleransi untuk kerukuan umat beragama.

Deklarasi moderasi beragama itu, lanjutnya, dipimpin oleh Kapala Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah, Musta’in Ahmad bersama yang diikuti para remaja masjid dan generasi muda  di forum ini.

Dia menambahkan deklarasi moderasi beragama bagi remaja masjid dan generasi muda Jawa Tengah di Demak ini merupakan yang perdana atau putaran pertama.

Sebelum itu, tutur Ahsan, pada 16 Februari lalu di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), pihaknya bersama Kakanwil Kemenag Jateng Musta’in Ahmad dan pimpinan dari tiga remaja masjid besar di Semarang yakni  Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah (RISMA JT), Ikatan Pemuda Remaja Masjid Baiturrahman (IKAMABA) dan Ikatan Remaja Masjid Agung Semarang (KARISMA) Kauman telah melaunching gerakan moderasi beragama di masjid.

Kakanwil Kemenag Jateng Musta’in Ahmad mengajak para remaja masjid dan generasi muda Jawa Tengah bersemangat mempelajari dan mengamalkan agama itu dalam pembelajaran keagamaan dan pengalaman ajaran agama pada wajah asli  dan wajah agama.

Dia menuturkan sejatinya ajaran agama itu moderat, berada di tengah-tengah, tidak ditarik pada garis ekstrem kanan maupun ekstrem kiri.

“Kita ingin, para generasi muda ketika belajar teks maupun konteks dan agama dalam waktu yang sama mereka belajar nilai-nilai kebangsaan, karena agama dan kebangsaan harus menjadi satu tarikan nafas bagi bangsa Indonesia, nyatanya bangsa Indonesia memang kuat nasionalisme dan religiusitas agamanya,” tuturnya.  (SMH/RS)

2
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>