Sebarkan berita ini:
Wakil Ketua Fraksi PPP DPRD Jateng Ngainur Richadi

SEMARANG[SemarangPedia] – Dalam upaya menjaga keselamatan kiai di tengah ancaman penularan Covid-19 diharapkan para santri di Jawa Tengah mengubah perilakunya untuk tidak salaman dan tidak mencium tangan kiainya.

Wakil Ketua Fraksi PPP DPRD Jawa Tengah Ngainur Richadi mengatakan saat ini di tengah pandemi Covid-19 menghindari salaman dan mencium tangan kiai adalah bagian dari upaya mulia santri dalam menjaga keselamatan kiainya dari ancaman Covid-19 .

“Tidak mencium tangan kiai selama pandemi Covid-19 itu adalah bagian dari ikhtiyar santri dalam menjaga kiainya dari ancaman Covid-19, tidak salaman dengan sesama santri juga termasuk menjaga keselamatan sesama santri,” ujar Richard, Sabtu (26/9).

Menurutnya, perubahan perilaku ini tentu sifatnya hanya sementara saja, nanti kalau kondisi sudah normal kembali, pandemi sudah berakhir dipersilahkan tradisi perilaku mulia itu diberlakukan lagi. Tegasnya harapan adanya perubahan perilaku tidak salaman dan cium tangan ini bisa dipahami dan dimaklumi.

Terkait dengan informasi dari Kementerian Kesehatan RI yang menyebutkan di Jawa Tengah muncul klaster Covid di kalangan pondok pesantren, sehingga perlu dihentikan kegiatan belajar mengajarnya, hal itu perlu dikonfirmasi sekaligus diluruskan.

Beberapa waktu lalu staf khusus Menkes Maria Mubarika melalui media mengatakan di Jateng muncul klaster Covid-19 di lingkungan pesantren, karena itu kegiatannya perlu segera dihentikan.

Dia menambahkan setelah dicek ternyata kejadiannya ada sejumlah santri di dua pondok pesantren di daerah Kabupaten Kebuken dan Banyumas yang terkonfirmasi positif, padahal  di Jateng ada ribuan  pondok pesantren, maka data itu tidak bisa direpresentasikan pesantren di Jateng

Pernyataan itu, tutur Richad, perlu segera diluruskan karena dampak negatifnya besar, tidak hanya  memunculkan kegelisahan kalangan pondok pesantren yang sudah menjalankan aktifitas KBM dengan menerapkan standar protokol kesehatan yang ketat, tetapi juga kalangan santri pada madrasah dibiniyah dan TPQ.

Dari pernyataan itu, saat ini sudah ada Kantor Kemenag di salah satu kabupaten/kota di Jateng yang mengeluarkan edaran agar aktifitas KBM Madrasah Diniyah dan TPQ yang berada di tengah-tengah masyarakat dihentikan aktifitasnya.

“Padahal di jalan-jalan, pasar, mall, di arena publik lainnya aktifitas berlangsung secara normal, karena itulah kami akan mengambil langkah melakukan koordinasi dengan pemangku kebijakan di Jateng, agar tidak gegabah dengan menutup aktifitas pesantren,” tuturnya.

Kepada para kiai dan santri di Jateng diharapkan tetap tenang. KBM yang sudah berlangsung supaya tetap dilanjutkan tentu dengan selalu berupaya semaksimal mungkin memenuhi protokol kesehatan dan untuk sementara meninggalkan tradisi cium tangan kiai dan salaman sesama santri. (SMH/RS)

4
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>