Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Sate Serepeh memang nama makanan yang begitu asing di dengar terlinga terlebih di era geliatnya kreasi dan inovasi kuliner di Indonesia saat ini.

Pada masanya kuliner tradisional khas Kabupaten Rembang, Jawa Tengah ini begitu digandrungi karena citarasa yang unik.

Meski makanan tersebut terbilang legendaris dan mulai sulit ditemui di wilayah Rembang khususnya. Namun, tiba-tiba muncul ada yang berupaya melestarikan dan memperkenalkanya pada di Festival Makan Kuliner Semarang Area Parkir Sri Ratu Pemuda, Semaran beberapa waktu lalu.

Dari puluhan stand yang hadir di Festival Makan Kuliner Semarang Area Parkir Sri Ratu Pemuda adalah Mei Liem Gunawan seorang pedagang Sate Serepeh yang masih eksis menjual sate legendaris itu.

Bersama anaknya,Yan Fajaridian dan menantu Christina Budi Cakrawinata beliau diboyong dari Rembang Ke Semarang untuk menularkan ilmu meracik bumbi Sate Serepeh kepada menantunya agar citarasa asli terjaga dan turun ke generasi berikutnya.

“Saya ini sudah berjualan sate sejak 1985 dan saat ini di Rembang hanya ada empat orang yang masih menggeluti bisnis sate serepeh,” ujar wanita berusia 70 tahun itu saat ditemui semarangpedia.com.

Menurut wanita yang berkecimpung pada usaha mankanan sate selama 31 tahun itu, penjual sate serepeh di Rembang yang tersisa saat ini sudah mulai hilang, karena sudah tidak serius lagi menjaga rasa asli dan terbawa dengan perkembangan jaman.

Sementara Yan Fajaridian mengatakan keunikan dari sate serepeh yang tak tergantikan dengan sate lainnya ada pada bumbu kuah satenya.

Bumbu kuah satenya, tuturnya, tidak menggunakan bumbu kacang pada umumnya melainkan menggunakan santen dicampur gula jawa.

“Jadi bahan dasarnya itu dari rempah-rempah pilihan dicampur dengan tumbukan halus gula jawa, santan dan cabai kemudian direbus dan di aduk merata,” ujar pria yang kini menjadi penerus ke tiga penjkual Sate Serepeh.

Dia mengatakan meski bumbunya terbilang simpel, namun butuh ketelaten terutama mengaduk untuk menciptakan rasa khas kekentalan sate serepehnya.

“Butuh tiga jam untuk memperoleh kekentalan kuah sate yang dinginakan dimana proses mengaduknya pun harus konstan terus tanpa berhenti,” tuturnya.

Karena itulah, dia menuturkan untuk saat ini bersama istri Christina Budi Cakrawinata masih terus belajar agar racikan bumbu rempah dan adukan kuahnya bisa sama dengan ibundanya.

Menurut Christina Budi Cakrawinata, pemilihan daging ayam sendiri, dirinya menggunakan ayam kampung pejantan sebagai bahan utamanya.

“Daging ayam kampung pejantan itu empuk dan pas diolah dalam Sate Serepeh terlebih pembuatan daging satenya diiris tipis dan direbus terlebih dahulu sebelum di bakar,” ujarnya wanita yang berdomisili di perumahan Dempel Baru Permata Semarang.

Memang benar, kata Christina, citarasa Sate Serepeh ini cukup unik. Disajikan 10 tusuk dalam satu mangkonya plus olesan kuah sate kentalnya begitu menggoda.

Rasa gurih manis perpaduan santan dan gula jawa dalam kuah sate kentalnya membaur di mulut terlebih daging satenya yang empuk menambah kenikmatan tersendiri.

Bagi yang pertama kali mencicipi pasti akan meraba dipikiran, rasa yang akan muncul dalam kunyahan pertama.

Setelah kunyahan berikutnya anda akan menemukan rasa unik yang mungkin pandangan satu sama lain bisa berbeda.

Harga serporsinya pun cukup terjangkau. Sepuluh tusuk sate dihargai Rp25.000. Bagi yang mengiginkan nasi cukup menambah Rp 4.000.

Menurut Christina, pelanggan sate serepeh kini lebih didominsi pelanggan lama yang masih setia.

“Sudah dua tahun dibantu suami dan ibu meracik bumbu aslinya jadi melihat Semarang belum ada nanti berencana membuka kedai sendiri,” ujarnya.

Meski belum memiliki kedai, pihaknya sudah menjalankan usaha melalui pre order melalui 081802411118 dengan 500 tusuk dalam kota dan minimal 1000 tusuk untuk luar kota.

“Sebelum event ini ibu sempat mengirim 2000 tusuk pesanan dari Jakarta,” tuturnya.

Dia mengaku baru kali pertama mengikuti Festival Makanan dan respon masyarakat akan sate serepehnya baik. Selama empat hari perhelatan ribuan tusuk terjual.

“Hari pertama terjual 1000 tusuk hari kedua sempat tutup saat pukul 20.00 karena stok sate habis, meski 15 orang sudah mengantri dan diharapkan sampai selesai 4 Aprli 2017 animonya meningkat,” ujarnya. (RS)

399
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>