Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Para santri putra pondok pesantren Askhabul Kahfi, Jalan Cangkiran Gunungpati Km 3 Polaman, Mijen, Kota Semarang menggelar sepak bola api.  Mereka asyik bermain layaknya memakai bola sepak seperti biasa.

Bedanya dengan sepak bola biasa, permainan sepak bola api menggunakan bola terbuat dari kelapa yang sudah dikeringkan dan dicelup dengan bahan bakar minyak dan disulut api.

“Tentu saja mereka tidak terbakar dan tersengat api juga tidak merasakan panas karena sebelumnya sudah dibacakan doa-doa oleh para kiai,” ujar Ketua Panitia Hari Santri  Nasional (HSN) 2019 PCNU Kota Semarang Asikin Khusnan.

Kegiatan sepak bola apI yang digelar Sabtu Malam (19/10) ini dalam rangka memeriahkan Istighatsah Kebangsaan dan refleksi hari santri santri nasional (HSN) 2019 di pondok pesantren Askhabul Kahfi.

Hadir pada kesempatan itu, Wali Kota Hendrar Prihadi, Ketua DPRD Kota Semarang Kadarusman, para anggota dewan dan ribuan pengunjung yang memadati halaman pondok pesantren itu.

Istighatsah kebangsaan dipimpin  KH Ahmad Hadlor Ikhsan, sedangkan refleksi hari santri disampaikan Rais Syuriyah PWNU Jateng KH Ubaidulloh Shodaqoh dan Rais Syuriyah PCNU Kota Semarang KH Hanief Ismail Lc.

Ketua tanfidziyah  PCNU Kota Semarang Drs KH Anasom menuturkan dalam rangka Hari Santri Kota Semarang, pihaknya menggelar 20 kegiatan lebih tersebar di Kota Semarang.

“Kegiatan itu di antaranya sosialisasi empat pilar di 16 kecamatan, lomba membaca kitab kuning, donor darah, lomba menulis surat untuk Mas Hendy, workshop kurnalistik santri, resik-resik masjid, ziarah ke makam-makam pendiri NU, pameran UMKM dan hasil karya santri, kirab resolusi jihad dan lain-lain,” tutur kyai Anasom

KH Ubaidulloh Shodaqoh dan KH Hanief Ismail dalam refleksinya mengingatkan para santri untuk memperkuat dengan teguh iktiqad faham Ahlussunnah waljamaah ala thariqatu Nahdlatul Ulama.

“Santri menjadi banteng terdepan NKRI dan Pancasila serta Nahdlatul Ulama. Pelajaran ahlak, budi pekerti, kitab taklimul mutaalim, aqidatul awam dan lain-lain kalian perdalam lagi kalian pelajari lagi agar tidak goyah menghadapi gangguan macam apapun ,” ujarnya.

Menurutnya, saat  ini muncul fenomena ‘’hijrah’’ yang aneh-aneh. Baru ngaji entah kepada siapa gurunya tiba-tiba sudah jadi ustadz di televisi dan medsos. Mengeluarkan dalil fatwa, ayat Alquran mengkafir-kafirkan orang dan tentu saja sangat menyesatkan.

Para santri harus terjun ke masyarakat, jelaskan fenomena yang menyesatkan ini.

Kiai Hanief mengajak santri untuk memperdalam ilmu agama (tafaqquh fiddien) dengan menekuni kitab-kitab kuning dan kitab suci Al Qur’an.

“Tidak usah tertarik atau tergoda oleh iming-iming CPNS, kursi DPRD, jabatan eksekutif dan lainnya. Perdalam ilmu agama Insya Allah akan ditunjukkan sendiri kedudukan yang mulai di sisi Allah,” tuturnya.

Upacara Hari Santri akan dipusatkan di halaman Balai Kota Jalan Pemuda Semarang, Selasa pagi (22/10). Wali Kota akan menjadi inspektur upacara.

Semua peserta menggunakan pakaian santri yaitu putra memakai sarung, baju koko dan peci hitam, sedang putri berbusana muslimah. Usai upacara Wali Kota akan membuka pameran UMKM dan hasil karya santri serta melepas kirab resolusi jihad menuju makam Sunan Pandanaran I di Mugas Semarang. (SMH/RS)

13
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>