Sebarkan berita ini:

24-EgrangSEMARANG[SemarangPedia] – Semakin pesatnya perkembangan teknologi membuat berubahnya pola gaya hidup bagi masyarakat di begarbagai kota besar, termasuk Semarang tidak mau ketinggalan warganya lebih asik bermain game di gadget smartphonenya.

Tidak hanya dirasakan orang dewasa, anak – anak pun juga getol akan permainan itu. Anak – anak era sekarang ini lebih asik bermain game di gadget smartphonenya ketimbang bermain yang mengasah kreativitas.

Kondisi itu, nampaknya mendorong Forum Komunikasi Peduli Sosial Pendidikan Semarang tergerak untuk menciptakan aktvitas permainana tradisional yang lebih bermanfaat bagi masyarakat.

Melalui kegiatan “Ayo Dolanan Tradisional” event gabungan 1000 Guru  Semarang dengan 27 Organisasi dan  Komunitas se Semarang mengajak masyarakat Semarang khususnya anak – anak untuk lebih mengenal permainan Tradisional Indonesia.

24-BakyakKegiatan itu, dilakukan di Area Car Free Day Jalan Pahlawan ( Depan Gedung Kwarda Semarang ), Minggu pagi (24/7) dan terlihat begitu semarakserta meriah, karena berbagai permainan tradisional di pertunjukan di jalanan tersebut.

Niken Hapsari Ketua Event Ayo Dolanan mengatakan acara ini merupakan bagian dari memeriahkan Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli 2016.

“Tujuan kami tidak sekedar memperkenalkan mainan tradisional tetapi ingin mengajak masyarakat, terutama orang tua maupun anak untuk lebih menyukai dan bisa mempraktekan permainan tradisional ini di lingkungan keluarga dan sekitarnya” , ujar Niken saat kepada SemarangPedia.com.

24-LoncatanDalam Ayo Dolanan Tradisional ini,  lanjutnya, menampilkan sejumlah permainan tradisional di antaranya Engrang, Engklek Ular Naga, Gasing, Conglak, Gobak Sodor, Bekelan, Gasing, Balang Bat dan Bakiak yang bisa dicoba.

“Khusus anak – anak kita arahkan untuk lebih aktif dan mau mencoba seluruh permainan yang ada dengan kita beri list , ketika mereka sudah puas dan berhasil mencoba kita beri hadiah doorprize,” tuturnya.

Animo masyarakat Semarang yang ingin mencoba permainan tradisional cukup tinggi, hingga arena itu dikrumunan banyak orang, mereka menunggu giliran untuk bermain. Tidak sekedar anak – anak saja, orang dewasa pun ikut serta mencoba.

Raut wajah maupun keriangan  terlhat pada mereka yang mencoba permainan tradisional itu. Mereka ada yang takut malu-malu mencoba engrang, ada juga yang gigih untuk bisa seimbang di enggrang, wajah serius saat bermain dakon maupun bekel ada pula yang gembira bermain bakiak dan balang bat.

Dari sekian banyak orang yang mencoba, Ibu Retno salah satu warga yang ikutan mencoba. Bersama kedua anaknya Alya dan Ara menuturkan pengalaman mencoba mainan tradisonal.

24-Gangsingan“Acara ini bagus, untuk anak era 2000 an seperti anak saya masih awam dengan permainan ini, sehingga saya ajak mereka, ternyata suka dan ketagihan untuk mencoba lagi” ujarnya.

Menurutnya, acara seperti ini harus sering diadakan dan terutama lebih dikembangkan variasi perminan tradisionalnya.

Diakhir event Niken wanita alumni Unissula itu memberikan pesan dari event yang digelar. “Dengan event ini setidaknya orang tua dan anak terutama yang menyempatkan datang kesini bisa merasakan betapa seru dan beragamnya permainan tradisional. Tentunya bisa mengasah kelincahan kreativitas dan interaksi sosial”,  tuturnya. (RS)

 

218
Sebarkan berita ini:

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>