Sebarkan berita ini:
Ilustrasi
Ilustrasi

SEMARANG[SemarangPedia] – Setara merupakan LSM yang konsen terhadap kekerasan terhadap anak dan telah menemukan sebanyak 90 kasus kekerasan terhadap anak di Kota Semarang dan tercatat 40% di antaranya kekerasan seksual.

Ketua Setara Tsaniatus Sholihah mengatakan kasus kekerasan terhadap anak di Kota Semarang semakin mengkhawatirkan, sehingga perlu penanganan serius dari pemerintah.

Menurutnya, dari 90 kasus kekerasan itu terjadi di tiga kelurahan di Kota Semarang, sebanyak 34 di antaranya adalah kekerasan seksual dengan korban laki-laki sebanyak 12 anak dan perempuan sebanyak 22 anak.

“Para pelaku sebagian besar usianya masih anak-anak. Bahkan ada anak masih duduk di kelas tiga SD sudah mengenal seksualitas,” ujarnya, di Semarang.

Sejumlah pemicu kasus tersebut, lanjutnya,  adalah faktor teknologi baik melalui internet, media sosial, film porno dan televisi. Faktor tersebut dinilai merupakan pintu bagi anak-anak untuk meniru adegan seksual karena mudahnya mendapatkan akses teknologi tersebut.

“Selain itu, kondisi ekonomi juga sangat berpengaruh. Terkadang keterbatasan ruang tidur tempat tinggal menyebabkan anak dengan mudah melihat aktivitas seksual yang dilakukan orangtua mereka,” tuturnya.

Tsaniatus menambahkan kasus kekerasan terhadap anak baik kekerasan fisik, seksual, maupun psikis para korbannya merupakan anak-anak. Ironisnya, para pelaku yang sebagian besar masih berusia anak-anak tidak mengetahui dan memahami jika yang dialami adalah tindak kekerasan karena mereka menganggap semacam permainan.

“Mereka tidak tahu dan belum memahami bahwa itu adalah kekerasan seksual, karena mereka menyebutnya itu mainan,” ujarnya. (RS)

199
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>