Sebarkan berita ini:

27-tolak-anginSEMARANG[SemarangPedia] – PT Industri Jamu dan Farmasi Sidomuncul Tbk merealisasikan pembangunan perluasan pabrik dengan investasi sekitar Rp230 miliar di atas lahan seluas tiga hektere, sebagai upaya untuk meningkatkan 300% kapasitas produksi Tolak Angin berbagai varian hingga mencapai 210 juta sachet per tahun.

Direktur  PT Industri Jamu dan Farmasi Sidomuncul Irwan Hidayat mengatakan perluasan pabrik itu dibangun di lahan seluas tiga hektare dengan lokasi masih satu areal dengan pabrik lama di areal lahan paling belakang, yang akan dilengkapi dengan sejumlah mesin teknologi lebih canggih yang didatangkan dari Jepang.

Pembangunan perluasan pabrik Tolak Angin itu, lanjutnya, sebagai upaya untuk meningkatkan tiga kali lipat atau 300% kapasitas produksi hingga mencapai 210 juta sachet per tahun dari kapasitas pabrik lama sebelumnya hanya 70 juta sachet per tahun.

“Pabrik yang menelan investasi Rp230 miliar dengan sumber dana hasil dari penjualan saham (go public) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 18 Desember 2013 itu, diproyeksikan rampung tahun depan, mengalami kemunduran yang seharusnya selesai akhir tahun ini, akibat perubahan desain bangunan pabrik,” ujarnya kepada semarangpedia.com di sela-sela menerima kunjungan rombongan Dewan Ketahanan Nasional (DKN) yang dipimpin Sekjen Wantannas RI Letjend TNI M Munir, di Pabrik Sidomuncul, di Klepu, Kabupaten Semarang, Selasa. (27/9)

Menurutnya, dengan kapasitas mesin teknologi canggih buatan Jepang, Sidomuncul bakal mampu meningkatkan produksi lebih besar hingga mampu memenuhi permintaan pasar Tolak Angin berbagai varian, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor.

Pasar jamu, dia menambahkan sangat prospektif dan sampai saat ini belum tergarap secara optimal oleh sejumlah industri jamu. Potensi pasar itu terutama untuk kebutuhan konsumen lokal yang kini mencapai 90%, sedangkan kontribusi pasar ekspor masih relatif kecil berkisar 10%.

Didasari dari peluang pasar lokal itu, tutur Irwan, Sidomuncul kini tengah gencar melakukan berbagai inovasi untuk pengembangan berbagai jenis jamu, bahkan saat ini sudah memiliki 170 jenis jamu dan farmasi yang telah diproduksi dengan berbagai varian meliputi jenis jamu cairan, serbuk, kemasan botol kaca dan lainnya.

Perusahaan jamu yang berbasis di Desa Klepu, Ungaran, Kabupaten Semarang itu, juga telah memperoleh penghargaan akreditasi dari Badan Standarisasi Nasional (BSN) untuk laboratorium berserta peralatannya, setelah berbagai inovasi gencar dilakukan manajemen beberapa tahun terakhir ini dalam upaya pengembangan usaha.

Irwan menuturkan pendirian perluasan pabrik Tolak Angin itu, sekaligus untuk mewujudkan Sidomuncul sebagai perusahaan jamu terdepan yang berbasis penelitian/riset dan teknologi. Bahkan diharapkan untuk memperkuat kepercayaan kepada masyarakat konsumen terhadap khasiat jamu berbahan baku tumbuhan/tanaman obat alami.

27-sidomunculMenurut Irwan, pengembangan pabrik Tolak Angin itu, sebagai persiapan untuk menggenjot pemasaran dan memperkuat produksi jamu Tolak Angin, mengingat pasarnya masih sangat besar dan terus tumbuh, baik dalam negeri maupun ekspor.

“Pengembangan pabrik itu juga untuk mewujudkan komitmen perusahaan yang ingin menjadi industri jamu terlengkap dan terbesar di Indonesia, serta sekaligus sebagai partisipasi ikut meramaikan pasar jamu dunia.

Herbal drink varian baru produk Sidomuncul, misalnya dia menambahkan merupakan pengembangan dari sebelumnya yang berbentuk serbuk dan sudah di pasarkan lebih dulu, sedangkan produk baru Kunyit Asam, Beras Kencur, Kulit manggis, Daun Sirsak cair yang dikemas dalam botol kaca berukuran 150 cc kini mulai gencar diperkenalkan pasar.

Setelah Herbal drink dalam kemasan botol kaca dengan lima varian yang diluncurkan, segera menyusul produk yang lain seperti New Alangsari, KukuBima, Sari Jahe, Sari Asam dan lain juga bakal diperkenalkan pada pasar.

SidoMuncul sebagai pionir perusahaan jamu tidak akan berhenti melakukan inovasi untuk menghasilkan berbagai macam produk kesehatan yang dibuat dari bahan-bahan herbal yang alami, higienis dan modern.

“Produk baru itu, merupakan generasi ketiga Sidomuncul. Perusahaan yang dikelola generasi ketiga ini mampu menformulasikan dari bahan alami,” tuturnya.

Sidomuncul merupakan perusahaan jamu yang didirikan pada 1951 oleh Ny Rahmat Sulistiyo  dan kini menjadi perusahaan Tbk sejak resmi melantai di Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada 18 Desember 2013.

Perusahaan yang bergerak dibidang obat herbal saat ini dikelola oleh generasi ketiga terdiri Irwan Hidayat, J Sofyan Hidayat, Sigit Hartoyo, Johan Hidayat dan David Hidayat, selain juga melibatkan beberapa profesional serta seorang komisaris independent.

361
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>