Sebarkan berita ini:

29-BudiBOYOLALI[SemarangPedia] – Sistem hukum untuk penanganan kasus narkoba mendesak perlu diperbaiki, guna mencegah pemanfaatan celah yang dilakukan para tersangka dan terpinda kasus tersebut.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Pol Budi Waseso mengatakan sistem hukum untuk penanganan kasus narkoba mendesak segera diperbaiki, mengingat banyak celah hukum yang dimanfaatkan oleh para tersangka dan terpidana.

“Banyak celah hukum yang bisa dimanfaatkan para tersangka dan terpidana kasus narkoba untuk tidak melaksanakan putusan hukum,” ujarnya di sela-sela Pencanangan Boyolali Antinarkoba, di Alun-alun Boyolali, Minggu (29/5).

Kasus terpidana Freddy Budiman, lanjutnya, sebagai contoh celah hukum yang dimanfaatkan oleh terpidana, meski yang bersangkutan ada di Lembaga Permasyarakatan (Lapas).

Menurutnya, terdapat sistem hukum di negeri ini yang harus diperbaiki, bahkan ada upaya banding, kasasi, hingga peninjauan kembali, seperti yang dilakukan Freddy Budiman.

“Hukuman mati bagi Fredy Budiman belum bisa dilaksanakan karena ada hak membela, dan sampai sekarang itu belum selesai,” tutur Buwas panggilan akrab Budi Waseso.

Dia mengatakan celah atas sistem hukum itu yang sering dijadikan modus operandi bagi para tersangka dan terpidana hukuman mati untuk tetap mengendalikan peredaran narkoba lewat lembaga permasyarakatan (lapas).

“Terpidana mengharapkan tertangkap lagi oleh BNN atau polisi karena kalau tertangkap lagi, ada upaya hukum kembali pada kasus yang baru itu, akhirnya menghambat proses eksekusinya,” ujarnya.

29-BudiwasTidak hanya soal sistem hukum, Buwas menambahkan dari 43 jenis narkotika yang terdeteksi beredar di Indonesia, tercatat hanya 18 jenis narkotika yang sudah diatur pasal hukumnya, sedangkan lainnya belum bisa dideteksi.

Dengan demikian, lanjutnya, narkotika jenis itu sangat rawan, kalau dikonsumsi masyarakat, bahkan tidak akan ada sanksi hukumnya, sehingga BNN sedang bekerja sama dengan Rusia untuk mendeteksi jenis-jenis heroin baru yang belum terdeteksi di laboratorium BNN.

Pada kegiatan Pencanangan Boyolali Antinarkoba, Buwas meminta komitmen masyarakat Boyolali untuk mulai mencegah penggunaan narkotika. Pencanangan serupa telah digelar di Aceh, dan akan berlanjut ke kota-kota lain, seperti Medan, Sulawesi, hingga NTB.

Sementara Bupati Boyolali, Seno Samodro mendukung gerakan perang melawan narkotika. Pihaknya siap memfasilitasi BNN untuk memiliki kantor di dekat Bandara Adi Soemarmo..

“Di bandara kan sering ada penyelundupan. Kalau ada BNN di dekat bandara maka untuk pencegahan dan penindakannya akan lebih mudah, serta bandara internasional itu tidak dijadikan pintu masuk penyelundupan bagi narkoba, ” ujar Seno.

Tidak ketinggalan, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memesan kepada masyarakat Boyolali terutama ibu-ibu harus ketat mengawasi anak-anak, karena peredaran narkoba sudah sangat membahayakan hingga masuk ke daerah.

“Peredaran narkoba sudah mulai masuk ke berbagai daerah dan modusnya dengan menggunakan makanan seperti permen, es jus, dan jenis makanan lainnya dengan sasaran anak-anak sekolah serta remaja,” ujar Ganjar.

102
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>