Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Dalam mengatasi persoalan radikalisme di Indonesia, jangan hanya menggunakan pendekatan politik dan kebijakan pemerintah, namun perlu juga menggunakan instrumen kebudayaan.

Hal terungkap dalam seminar nasional, “Radikalisme dan Budaya: Pendekatan Kebudayaan Mengenali Transformasi Radikalisme” di MG Setos Hotel Semarang, Rabu (14/8).

Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Prodi Antropologi FIB Undip menghadirkan empat narasumber  terdiri Prof Dr Sumanto Al-Qurtuby Guru Besar Antropologi King Fahd University, Saudi Arabia, Dr Mohammad Adnan Ketua Tim Anti Radikalisme Undip, Dr Wawan H Purwanto Juru Bicara  BIN dan Dr Amirudin Ketua Prodi Antropologi FIB Undip.

Menurut Sumanto Al-Qurtuby, radikalisme muncul akibat berbagai faktor. Dengan demikian, penanganan radikalisme di Indonesia perlu juga melalui berbagai pendekatan di antaranya kebudayaan.

“Instrumen kebudayaan merupakan salah satu komponen terpenting dalam mengatasi persoalan radikalisme, kekerasan maupun intoleransi,” ujarnya.

Amirudin menuturkan radikalisme bisa tumbuh jika suatu lingkungan daerah baik itu desa maupun kecamatan pada situasi yang bersifat single culture. Kondisi itu, berpotensi munculnya radikalisme dan fundamentalisme yang bakal melahirkan terorisme.

“Untuk itu lingkungan multikultur sangat penting sebagai upaya untuk mengontrol. Maka pendekatan kebudayaan merupakan alat untuk melakukan kontra radikalisme,” tuturnya.

Sementara itu, Mohammad Adnan menyoroti perlunya deradikalisasi. Menurutnya, upaya deradikalisasi harus melibatkan mantan napi teroris.

“Kalau mantan napi teroris (Napiter) menjadi narasumber dalam program deradikalisasi diharapkan mereka para napi teroris lebih yakin dan percaya sehingga tidak akan lagi melakukan teroris,” ujarnya.

Wawan H Purwanto menghimbau masyarakat yang memiliki tetangga mantan napi teroris untuk bisa menerima seperti masyarakat lainnya.

“Jika mantan napiter yang sudah dikeluarkan dari penjara dan kembali ke lingkungan tetap dikucilkan, maka dikhawatirkan mereka merasa tidak diterima dan bakal kembali ke kelompoknya,” tuturnya.

Selain itu, Wawan berharap agar orangtua perlu melakukan pengawasan terhadap putra- putrinya agar tidak terpengaruh paham radikalisme.

“Anak muda paling rentan dimasuki paham radikalisme baik melalui medsos maupun pergaulan lingkungan yg tidak jelas,” ujarnya. (RS)

12
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>