Sebarkan berita ini:

Processed with VSCO

SEMARANG[SemarangPedia] – Sangat mengesankan penampilan siswa-siswi Sanggar Tari Greget Semarang pada Gelar Karya 25 Tari dan 25 Gendhing yang berlangsung di Wisama Perdamaian Jl MGR Sugiopranoto No 37 Semarang hingga tepuk tangan para penonton terlihat semarak.

Pegelaran tari yang mengangkat Langen Mataya Munjung Leluhur itu diperagakan oleh 130 penari dengan diriingi karawatian yang dimainkan  30 orang siswa – siswi Sanggar Tari Greget pada Minggu Siang. (24/7)

Gelaran kesenian tari itu, dimulai pukul 13.00 WIB, dan dipertunjukan sejumlah tarian kreasi di antaranya tari Manggar Warak, Tari Toed Toed, Tari Kitiran dan masih ada yang tentunya menawan serta memikat.

Puncak acara persembahan tarian penutup, Beksan Langen Mataya Munjung Leluhur karya Yoyok B Priyambodo juga dipentaskan.

Para penonton yang hadir di aula begitu takjub melihat keluesan dan ketenangan Mas Yo dan siswa-siswinya memeragakan tarian hingga mempesona para penonton. Dalam tarian, Slivester Pamardi, Dosen ISI Surakarta turut hadir dan ikut menarikan tarian tradisi sanggar greget.

Processed with VSCO

Dibalik cerita tari Langen Mataya, Yoyok B Priyambodo pemilik Sanggar Tari Greget menuturkan tarian ini merupakan rangkian gerak tari persembahan doa kepada leluhur sesepuh, seniman yang telah berjasa meninggalkan segala ilmu berupa seni dan budaya.

“Ini bentuk tarian rasa syukur dan bentuk tarian doa yang diimplemetasikan berupa gerak, rias buasana diapdu dengan iringan tembang gamelan”, tuturnya kepada SemarangPedia.com.

Mas Yo sapaan akrabnya Yoyok B Priyambodo mengatakan rangkaian gerak tari yang dipertunjukan merupakan pengembangan gerak tari kreasi yang pakemnya dari tari tradisi Jawa.

“Gerakanya mengambil esensi dari tari bedhaya yang lebih halus gerak tarinya” ujarnya

Sementara Slivester Pamardi, Dosen ISI Surakarta melihat pegelaran ini sebagai bentuk pelestarian seni budaya jawa.

Bebicara dengan pelestarian adalah aktivitas dari manusia itu sendiri. Manusia memiliki cita rasa yang berbeda dalam berinovasi. Jadi Inovasi itu juga dalam rangka menghidupi tradisi,” tuturnya. (RS)

 

1.108
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>