Sebarkan berita ini:

23-PRTSEMARANG[SemarangPedia] – International Organization for Migration (IOM) X bekerja sama  dengan U.S. Agency for International Development (USAID) meluncurkan video anti eksploitasi kekerasan terhadap pembantu rumah tangga (PRT), guna mencegah eksploitasi terhadap ribuan PRT di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), di Jakarta.

Video inovatif berdurasi 22 menit yang dilancurkan akhir bulan lalu itu, merupakan kisah dari tiga keluarga di ASEAN yang memiliki pekerja rumaht tangga asal Indonesia, Filipina dan Myanmar.

“Tayangan video yang membawa pesan kepada pengguna jasa, menunjukan hubungan positif dengan pekerja rumah tangga yang didasari rasa saling percaya dan komunikasi yang baik dapat menciptakan rumah yang nyaman (happy home),” ujar Tara Dermott, Program Leader, IOM X, dalam siaran pers yang diterima SemarangPedia.com, Juma(24/6).

IOM X adalah kampanye inovatif  IOM untuk mendorong migrasi yang aman serta gerakan masyarakat dalam menghentikan eksploitasi dan tindak pidana perdagangan orang.

Peluncuran video anti eksploitasi kekerasan terhadap pembantu rumah tangga mendapat apresiasi dari , Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) RI, Hanif Dakiri.

Menurutnya, dapat membantu menyampaikan informasi secara langsung kepada masyarakat agar dapat menghentikan eksploitasi pekerja di sektor rumah tangga.

“Mari kita memberikan perhatian lebih kepada isu ini dan mendorong kedua belah pihak (pekerja dan pengguna jasa) agar lebih memahami hak dan kewajibannya masing-masing yang

pada gilirannya dapat menciptakan lingkungan kerja yang nyaman, baik bagi pekerja rumahtangga maupun pengguna jasa,” ujarnya.

Data di Dirjen Amerika dan Eropa menyebutkan saat ini pekerja rumah tangga dipekerjakan di rumah pribadi, memberikan jasa/layanan seperti membersihkan rumah, mencuci, berbelanja, memasak dan menjaga/mengurus anak serta orang tua.

Secara global, satu dari 13 perempuan penerima gaji sebaga pekerja rumah tangga dan dari 52 juta pekerja rumah tangga di dunia, 41 % dia natgaranya berada di Asia Pasifik, serta diduga 1,9 juta pekerja rumah tangga di Asia Pasifik mengalami eksploitasi.

Dakhiri menjelaskan, jutaan perempuan bermigrasi ke kawasan Asia Pasifik untuk bekerja sebagai pekerja rumah tangga, termasuk dari Indonesia.

“Oleh karena itu, sejalan dengan semangat yang ditetapkan dalam Protokol Palermo, merupakan sebuah kewajiban bagi setiap Pemerintah di kawasan untuk bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan, guna mencegah pekerja rumah tangga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang,” paparnya. (RS)

 

65
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>