Sebarkan berita ini:

22-BanserSEMARANG[SemarangPedia] – Banser Jawa Tengah menyatakan tidak ada pengepungan yang dilakukan oleh Banser Banyumas di lingkungan Rumah Sakit Islam (RSI) Muhammadiyah Purwokerto dan rumah Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), seperti yang beredar berita di sosial media.

“Kabar Banser mengepung rumah rektor UMP itu lebih bohong dalam berota di media sosial, saya pastikan berita itu bohong dan fitnah,” ujar Hasyim Asyari Komandan Satuan Koordinator Wilayah (Kasatkorwil) Banser Jawa Tengah saat dihubungi SemarangPedia.com, Rabu,(22/6)

Dia mengatakan kalau ada banser di rumah sakit itu merupakan permintaan Serikat Karyawan Rumah Sakit Islam Purwokerto, bukan instruksi Komandan banser baik untuk wilayah iotu maupun wilauyah Jateng.

Menanggapi kasus yang terjadi di Banyumas, pihaknya mengatakan tidak pernah ada Banser mengepung, menyerbu dan menduduki Rumah Sakit Islam Purwokerto dan rumah Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

“Jika memang ada tolong fotonya dikirim wajahnya dan nama-namanya nanti kami segera menindak lanjuti” tuturnya. (RS)

 

171
Sebarkan berita ini:

3 Comments

  1. Salam. Mohon maaf redaksi semarangpedia.com
    Ada kesalahan fatal pada pemberitaan. Tertulis RSI muhamadiyah purwokerto.mengingat kepemilikan saat ini masih ada di YARSI bukan di muhamadiya. Justru polemik kepemilikan ini yg masih menjadi perdebatan di ranah hukum & blm ada keputusan tetap.

  2. Mengingat kembali polemik RSI Purwokerto . dalam SK BUPATI ROEDJITO TAHUN 1986 NO:445.01.XII.51.86 yang berbunyi RSI PURWOKERTO ADALAH MILIK YARSI PURWOKERTO YANG DIDIRIKAN SECARA SWASEMBADYA MURNI UMAT MUSLIM INDONESIA KHUSUSNYA BANYUMAS DAN Akte Notaris Surdjana Hadiwidjaya, SH. No 19, tgl 23-12-1986 Dalam akta YARSI kedua ini, diketahui adanya perubahan beberapa pasal, perubahan badan pendiri dan badan pengurus. Adapun susunan badan pendiri dalam akta ini adalah: 1. Drs. H. Muhammad Musa, Dekan Fakultas Ekonomi Unsoed 2. Drs. Syamsuhadi Irsyad, Ketua Pengadilan Agama Purwokerto 3. Drs. Suhaimi, Kepala SMEA Negeri Purwokerto 4. H. Abdul Kahar Anshori, pensiunan kepala kantor departemen agama kabupaten banyumas 5. H. Syamsuri Ridwan, pensiunan kepala kantor departemen agama kabupaten Banyumas. Dalam akte ini, diketahui bahwa ketua badan pengurus masih sama dengan akte sebelumnya, yaitu, Drs. H. Djarwoto Aminoto, kepala kantor departemen pendidikan dan kebudayaan kabupaten banyumas. Hanya saja dalam akte ini, ada tambahan Penasehat, yang dijabat oleh RG Roedjito, Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Banyumas. Sama dengan komposisi badan pendiri dan badan pengurus sebagaimana dalam akte sebelumnya, hanya ada satu pengurus yang berasal dari dan atas nama Muhammadiyah, yaitu H. Muhammad Suparno, Kepala Madrasah Muallimin Muhammadiyah Purwokerto. Kelima, akte notaris Surjana Hadiwidjaya, SH no 28 tgl 21 Desember 1990. Berbeda dengan dua akte notaris RSIP sebelumnya, pada akte notaris RSIP yang ketiga ini, ada perubahan mendasar terhadap anggaran dasar RSIP. Yaitu: 1. Mengesahkan mukadimah Anggaran Dasar dan merubah total Anggaran Dasar Yayasan Rumah Sakit Islam Purwokerto. 2. Menguasakan sepenuhnya kepada tuan haji Abdul Kahar Anshori untuk melakukan perubahan total dalam anggaran dasar yayasan. Dalam mukadimah ini disebutkan bahwa Pengurus Daerah Muhammadiyah Banyumas berkehendak mendirikan suatu yayasan yang berdasarkan Aqidah Islamiyah yang bersumber kepada Al-Quran dan As sunnah shohiehah, sehingga amal usahanya didasarkan sebagai ibadah dan mencari keridloan Allah Subhanahu Wata’ala yang digali dari masyarakat dan untuk masyarakat. Untuk melaksanakan cita-cita tersebut maka Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banyumas dengan Surat Keputusannya Nomor: A-1/002/1983 tanggal 11 Jumadilawwal tahun 1403 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 23-2-1983 membentuk Badan Pendiri yang bertugas mendirikan suatu Badan Hukum yang berbentuk Yayasan. Dalam Anggaran Dasar Yayasan seperti yang tertuang dalam akte notaris ini, lagi lagi tidak ada diktum yang menyatakan bahwa YARSI adalah subordinat atau bagian dari amal usaha Muhammadiyah. Bahkan, dalam Anggaran Dasar Yayasan yang termaktub dalam akte notariat ini, diktum anggota Badan Pendiri menjamin afiliasi Yayasan dengan organisasi Muhammadiyah, juga ditiadakan. Dalam akte notaris ini, juga ditiadakan jabatan Penasehat, yang dalam akte notaris kedua YARSI diadakan dan dijabat oleh Bupati Banyumas, RG Roedjito. Dari diktum diktum yang ada dalam akta notariat ini dapat diketahui bahwa hubungan antara YARSI dengan Muhammadiyah hanyalah sebatas pada, bahwa Muhammadiyah berinisiatif untuk membentuk Badan Pendiri Yayasan saja dan manakala Yayasan yg kemudian dibentuk oleh Badan Pendiri tersebut pailit atau dibubarkan, Badan Pendiri menyerahkan sisa kekayaan dan amal usahanya kepada Muhammadiyah Daerah Banyumas. Selain dari pada itu, Yayasan memiliki eksistensi tersendiri untuk mengelola dirinya sendiri. Sebagai catatan, ada beberapa hal yang patut ditelisik lebih jauh lagi. Yakni: ()i) dalam akte notariat ini, tuan Haji Abdul Kahar Anshori, menghadap ke notaris dalam kedudukannya sebagai Ketua Badan Pendiri, padahal dalam akta notaris yang terakhir, ada perubahan anggota Badan Pendiri, Badan Pendiri nomor satu adalah Drs H. Muhammad Musa. (ii) mengapa tuan Haji Abdul Kahar Anshori diberi kekuasaan tunggal untuk melakukan perubahan total terhadap Anggaran Dasar Yayasan, sementara masih ada anggota badan pendiri dan badan pengurus yang lain? (iii) mengapa realitas historis yang sangat penting, bahwa YARSI pendiriannya diprakarsai oleh Badan Pendiri yang ditunjuk oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banyumas, baru ada dalam akte notariat YARSI yang ketiga, tahun 1990, tetapi tidak ada dalam akte notaris YARSI tahun 1983 dan 1986? Keenam, akte notaris Hj Imarotun Noor Hayati SH no 17 tanggal 9-2-2009 Dalam akta notaris yang terakhir ini, tidak ada perubahan mendasar terhadap akte notaris YARSI sebelumnya, kecuali mengesahkan perubahan Badan Pendiri menjadi Badan Pembina, dan menambah organ Pengawas disamping Pengurus. Badan Pembina dalam akte notaris ini adalah Drs H. Syamsuhadi Irsyad, SH. MH, sebagai Ketua diabantu oleh dua orang anggota, Drs H. Muhammad Musa dan Drs H. Suhaimi. Sama dengan akte notaris sebelumnya, tidak ada diktum yang menyatakan bahwa YARSI adalah afiliasi, subordinat atau bagian dari amal usaha Muhammadiyah, kecuali diktum yang ada dalam Mukadimah. Bahkan dalam akte notaris yang terakhir ini, tidak ada lagi keharusan untuk menyerahkan sisa kekayaan Yayasan kepada Muhammadiyah seperti yang termaktub dalam akte akte notaris sebelumnya. Dalam akte notaris ini, manakala Yayasan dibubarkan maka sisa likuiditas diserahkan kepada negara. Lantas dari mana muncul klaim bahwa YARSI didirikan Muhammadiyah dan oleh karenanya RSIP adalah milik Muhammadiyah? Ternyata sumbernya hanya dari surat surat keputusan yang dibuat oleh Muhammadiyah sendiri, bukan berasal dari dokumen otentik akta notaris YARSI, yang merupakan sumber hukum satu satunya dalam silang sengketa ini. Kalau toh ada diktum dalam akte notariat YARSI terkait afiliasi dengan Muhammadiyah, sebagaimana yang ada dalam akte yang pertama, tahun 1983. Makna afiliasi dalam diktum tersebut, sebagaimana yang telah ditetapkan pengertiannya oleh Pengurus Daerah Muhammadiyah Banyumas, H AK Anshori (Ketua) dan Drs. Daliman (sekretaris) di Purwokerto, 20 Juni 1989, adalah bahwa: afiliasi tidak berarti adanya campur tangan Muhammadiyah kepada YARSI dalam segala amal usahanya secara terinci, formal dan mendetail, apalagi akan menjadikan amal usaha YARSI sebagai obyek komersiil bagi Muhammadiyah. Keterangan tentang Afiliasi Yarsi dengan Muhammadiyah.(dok.SPRSIP) Keterangan tentang Afiliasi Yarsi dengan Muhammadiyah.(dok.SPRSIP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>