Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Satu Kurator Nyonya Meneer Wahyu Hidayat telah menjual 72 merek Nyonya Meneer senilai Rp 10,25 miliar, setelah penawaran riil tertinggi saat itu hanya sebesar itu.

Kurator Wahyu Hidayat mengatakan penjualan brand Nyonya Meneer senilai itu, tidak ada jaminan apakah perpanjangan sertifikat bakal ditolak atau diterima.

“Pada 2017 kami sudah mengajukan perpanjangan merek 10 buah, kemudian sisanya banyak yang mati,” ujarnya Senin (17/6).

Bahkan, lanjutnya, penawaran lelang brand Nyonya Meneer telah dialukan dua kali pada 2018, namun tidak ada penawaran dan tak terjual, hingga lelang bisa dilakukan di bawah tangan.

“Dua kurator terdiri Wahyu Hidayat dan Ade Liansyah telah mengajukan izin kepada Hakim Pengawas. Kemudian mengumumkan di media cetak pada 19 Desember 2018, selanjutnya, pelaksanaan penjualan 21 Desember 2018,” tuturnya.

Menurutnya, setelah itu ada ketidaksetujuan dari Ade terkait penunjukkan calon pembeli, hingga satu kurator Wahyu pun mengakui bahwa akhirnya membuat surat penunjukkan calon pembeli sendiri.

Dia menuturkan jika ada  dua kurator dan tidak ada titik temu, harus ada persetujuan Hakim Pengawas.

“Prosesnya saya dan kurator satunya dipanggil serta dipertemukan oleh Hakim Pengawas. Sekitar Februari lalu, hingga ada kesepakatan dengan Hakim Pengawas setuju dengan proses penjualan itu,” ujar Wahyu.

Bagaimana dengan sistem pembayaran yang dilakukan pihak di luar pembeli?. Wahyu mengatakan tidak masalah. Baginya yang terpenting adalah merek itu laku terjual dan dibayar.

Dia juga membenarkan adanya somasi dari pembeli karena proses pembeliannya terhambat dan tidak kunjung selesai. Bahkan merek adalah aset terakhir Nyonya Meneer.

Setelah mengantongi hasil penjualan aset, tutur Wahyu, ingin segera membagi pada para kreditur.

Menurutnya, tidak cukup dengan total utang Nyonya Meneer yang mencapai Rp 160 miliar, meski sistem pembagian adalah persentase.

Namun, Wahyu harus bertemu dengan Kurator Ade untuk membahas hal itu.

Sebelumnya Kurator Nyonya Meneer, Ade Liansyah pada media tidak menyetujui penjualan merek oleh kurator lain itu, apalagi dengan rendah harga penjualan senilai Rp10, 25 miliar.

“Ketika mendapat tembusan (penjualan), saya langsung membuat surat bahwa saya tidak menandatangani surat penjualan itu,” ujar Ade.

Bahkan, sebelum menyentuh angka penawaran Rp10 miliar, Ade menuturkan pernah ada penawar yang ingin membeli di kisaran Rp200 miliar. Adapun pihaknya melakukan penawaran merek pada akhir Desember 2018 sebesar itu.

Namun, penawar itu mundur karena sertifikat merek produk Nyonya Menner sudah kadaluarsa dan perlu diperbaharui.

“Ketika itu, saya menyarankan agar sertifikat merek diperbaharui dulu agar angka penjualan bisa mencapai  maksimal,” tuturnya.

Upaya kurator Wahyu, khusus tentang penjualan 72 merek itu, kurator Ade tidak ikut bertanggungjawab.

Penjualan lelang 72 merek dagang Nyonya Meneer itu juga sempat menimbulkan kecewaan eks karyawan perusahaan jamu itu. Melalui kuasa hukum eks karyawan akan mengajukan surat keberatan dan pertimbangan hukum ke Pengadilan Negeri Semarang, dengan tembusan ke Kementerian Ketenagakerjaan RI dan Disnaker Jateng. (RS)

 

18
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>