Sebarkan berita ini:
Direktur Utama PT KIW Rachmadi Nugroho

SEMARANG[SemarangPedia] – Tiga BUMN tengah menyiapkan pembentukan perusahaan korsorsium untuk pengelolaan Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, sebagai upaya menindaklanjuti keinginan Presiden Joko Widodo agar dapat menarik investasi dari 119 perusahaan China yang akan merelokasi pabriknya di Indonesia.

Ketiga perusahaan BUMN itu terdiri PT Kawasan Industri Wijayakusuma  (KIW), PT Pembangunan Perumahan (PP), dan PT Perkebunan Negara (PTPN) IX. Kolaborasi untuk pembetukan konsorsium akan dipercepat.

Direktur Utama PT KIW Rachmadi Nugroho mengatakan setelah kunjungan Presiden Jokowi di lahan calon KIT Batang pada akhir Juni lalu, pihaknya terus melakukan persiapan yang diharapkan ada percepatan sehingga pembangunan segera terealisasi.

“Saat ini progress-nya pembentukan konsorsium pengelola kawasan industri. Meski masih awal sekali, namun untuk persiapan harus dilakukan,” ujar Rachmadi, Sabtu (1/8).

Menurutnya, secara marathon rapat koordinasi dilakukan setiap minggu baik tiga pilar utama, PTPN IX, PT PP dan PT KIW, ditambah stakeholder yang lain sebagai supporting seperti jajaran Kemenko Maritim dan Investasi, Kemenko Perekonomian, Kementrian BUMN, PUPR, Perindustrian, Perhubungan, Agraria dan Tata Ruang, Lingkungan Hidup dan Kehutanan, BKPM, Bina Marga, Pelindo, PLN, Pertamina, KAI, Pemprov Jateng dan Pemkab Batang.

Bagi-bagi tugas, lanjunya, Kemen PUPR dan Bina Marga berencana membuka exit tol dengan harapan bisa langsung akses ke kawasan industri. Exit tol yang ada tersedia berjarak 16 Km menuju kawasan industri.

Sedangkan untuk urusan listrik menjadi tanggung jawab PLN. Harus dijamin harga daya listrik di dalam kawasan tidak lebih mahal dibanding dengan harga daya diluar kawasan. Sementara pasokan gas menjadi tanggung jawab Pertamina. Air bersih dan air baku menjadi urusan Direktorat Jendral Sumber Daya Air Kementrian PUPR.

Rachmadi sebelum di KIW menjabat sebagai  Direktur Utama PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP). Dia menuturkan gerak cepat juga dibutuhkan oleh Kementrian Perhubungan sebagai regulator untuk menugaskan PT KAI sebagai operator merevitalisasi jalur kereta api dengan focus Stasiun Plabuan adalah stasiun kereta api kelas III/kecil yang terletak di Ketanggan, Gringsing, Batang.

Tidak hanya merevitalisasi Stasiun Plabuan, dia menambahkan termasuk mempersiapkan dryport. Kementrian Perhubungan juga menugaskan Direktorat Jendral Perhubungan Laut dan PT Pelindo untuk merevitalisasi pelabuhan tua Batang.

“Ini sejalan dengan gagasan Menteri Erick Thohir  menarik investasi Jepang dan AS, bahkan pelabuhan peninggalan Belanda itu bakal disulap hinggga terkoneksi dengan Kawasan Industri Batang,” tuturnya.

Menurut Rachmadi, untuk menarik investor menanamkan investasinya, paling tidak ada tiga komponen yang harus diperhatian.

Pertama, tutur Rachmadi, harga lahan yang murah atau kompetitif, kedua, perijinan yang sepat, murah mudah dan pasti, ketiga, pelayanan yang prima.

Sebelumnya Ketua Umum DPN Apindo Haryadi Sukamdani yang sempat mengunjungi Batang beberapa waktu lalu mengatakan konsep pembangunan Kawasan Industri Terpadu Batang sebaiknya bisa dikelola konsep sewa tanah karena memang menggunakan tanah negara, seperti hampir mirip dengan kawasan industri di sejumlah negara

“Kawasan industri di negara Vietnam, Banglades, Myanmar dan China juga berada di tanah negara. Mereka menggunakan sistem sewa, sehingga menjadi kompetitif,” ujarnya.

Jika konsep sewa tanah, lanjutnya, diterapkan di KIT Batang, sudah dapat dipastikan biaya investasi bakal kompetitif, dan mampu mengundang minat investor asing.

Menurutnya, saat ini persaingan pembangunan kawasan industri tidak lagi merupakan persaingan nasional, namun sudah bersaing ketat antarnegara.

Selama ini, dia menambahkan konsep kawasan industri di Indonesia yang dibangun adalah dengan sistem beli tanah dengan harga yang tidak murah hingga mengakibatkan ekonomi biaya tinggi, termasuk biaya investasi tanah cukup mahal.

Berdasarkan penilaian jajaran pengurus Apindo, lokasi KIT Batang tidak dipungkiri sangat strategis dan potensinya bagus, mengingat tanah yang dipakai adalah tanah negara. Bahkan lokasi dekat dengan jalan tol dan terhubung dengan pelabuhan.

Selain itu, tutur Haryadi, segera dibuat exit tol dan dilewati jalur kereta api yang akan dilengkapi dengan merevitasisasi Stasiun Plabuan dan terhubung dengan kawasan industri.

“Penilaian kami, lokasinya benar-benar strategis, ditambah kultur masyarakatnya pekerja keras dan produktif,” tuturnya.

Apindo selaku pengusaha memiliki kepentingan melihat sejauh mana persiapan Pemerintah Daerah Batang, tentunya dengan koordinasi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi dalam menyiapkan kawasan industri di Batang.

Potensi lain KIT Batang sangat menjanjikan, mengingat sejumlah industri di luar kawasan wilayah Jawa Barat saat ini diminta untuk pindah. Batang bisa jadi salah satu tujuan relokasi industri. Bahkan bisa menarik relokasi industri dari negeri China yang mulai berminat masuk ke Indonesia. (RS)

18
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>