Sebarkan berita ini:

13-Palu Sidang1SEMARANG[SemarangPedia] – Tim penuntut kembali menghadirkan tiga saksi kunci dugaan kasus penyelewengan dana hibah yang menjerat terdakwa Ketua Kesatuan Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Pekalongan Ricsa Mangkula yang digelar di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (20/7).

Saat bersaksi, ketiga pengurus Pengurus Cabang Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Kota Pekalongan mengaku tidak pernah dilibatkan langsung dalam penerimaan bantuan dana hibah dari pengajuan KONI.

“Saya tidak pernah tahu aliran dana itu. Selama menjadi bendahara hanya paling disuruh tandatangan, dan mending saya keluar saja dari jabatan itu, yang sama sekali tidak tahu,” ujar Bendahara PSSI Pengcab Pekalongan, Tilal Ba’asyir.

Hal serupa dikatakan pula saksi lain, Slamet Mulyo, selaku Sekertaris Pengcab PSSI Kota Pekalongan, secara prosedural menyerahkan bantuan kepada yang penerima penyelenggara kompetisi Sekolah Sepak Bola (SSB) U-12 senilai Rp40 juta, yakni KONI.

Dalam kasus itu, terdakwa diganjar telah merugikan keuangan negara sebesar Rp427,2 juta. Besaran uang tersebut yang bersumber dari dana hibah Pemkot Pekalongan mengalir ke rekening pribadi, berupa pembelian kendaraan pribadi.

“Terdakwa telah melakukan perbuatan melawan hukum dan memperkaya diri sendiri,” kata JPU Kejari Kota Pekalongan Romie di hadapan majelis hakim yang diketuai Ari Widodo.

KONI Pekalongan mendapat suntikan dana hibah Rp1,85 miliar yang dicairkan tiga tahap. Selain itu, terdapat pengeluaran yang tidak bisa dipertanggungjawabkan besarnya Rp40 juta, serta senilai Rp 22,3 juta yang diperuntukkan diantaranya kegiatan sosial, buka bersama, komunitas Yamaha serta pembelian kenang-kenangan untuk KPN Pekalongan.

Ricsa didakwa melanggar primair Pasal 2 ayat 1 jo Pasal 18 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, serta subsidair Pasal 3 pada perundangan yang sama. Terdakwa diketahui telah melakukan pembelian kendaraan pribadi berupa 1 unit Isuzu Elf sebesar Rp 210 juta serta karoseri mobil Elf sebesar Rp 145 juta. Tak hanya itu, terdakwa juga menjual Yamaha jupiter Z milik terdakwa ke KONI tidak sesuai dengan harga pasaran senilai Rp 10 juta.

”Kendaraan yang dibeli juga bukan atasnama KONI tetapi atasnama terdakwa dan hal ini dilakukan tanpa sepengetahuan pengurus KONI. Ada juga terdapat kelebihan bayar Rp 10 juta dari Astra yang dikirim ke rekening BCA Pekalongan tapi tidak diserahkan ke KONI,” kata jaksa. (RS)

101
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>