Sebarkan berita ini:

20-Sidang Bansos1SEMARANG[SemarangPedia] Р Ketiga nama senior Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) kembali mencuat saat dua orang saksi kunci dalam dugaan kasus penyelewengan dana bansos yang melibatkan terdakwa Nurul Huda, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Korkom UIN Walisongo Semarang, di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (20/6).

Ketiganya disebut kecipratan menerima aliran dana bansos dengan total Rp83 juta, di antaranya Habibi, Saefudin, dan Ahmad Habib.

Dalam kesaksiannya, Azka Najib mengaku memberikan rekening pribadi kepada seniornya, guna menerima dana bansos fiktif sebanyak 10 proposal yang diajukan.

“Rekening saya dipinjam tidak tahu untuk apa. Saya juga percaya saja. Tapi, setelah itu ada aliran dana yang masuk ke rekening saya. Lalu saya transferkan secara tunai ke rekening terdakwa Rp29,3 juta,” ujarnya.

Keenam nama senior tersebut mencuat dalam sidang pemeriksaan lima saksi yang merupakan terpidana dalam kasus yang sama terdiri mantan Kabag Kesra dan Bencana Alam pada Biro Binsos Setda Propinsi Jateng, Joko Suryanto, mantan Kepala Biro Binsos, Joko Mardiyanto, mantan Kepala Biro Keuangan, Agus Soeranto (Agus Kroto) dan dua junior terdakwa di HMI, Azka Najib dan Musyafak.

Dalam kesaksianya, Azka Najib mengaku namanya dicatut dan oleh para seniornya, yang dicatumkan pada mengajuan 10 proposal dana bansos dan mendapatkan pencairan mencapai Rp83juta.

Dia juga mengaku dari bantuan yang diterima, hanya menikmati senilai Rp1,5 juta yang diberikan dari seniornya sebagai ucapan terimakasih.

“Semua uang itu dapat dari bantuan bansos dan sisa dana bantuan itu, saya berikan langsung ke senior,” tuturnya.

Sementara, saksi Musyafak mengatekan mengajukan 10 bandel proposal dengan pencairan dana Rp89 juta.

“Lembaga dalam proposal itu memang ada keterkaitan dengan Nurul Huda. Saya transfer sebesar Rp15 juta atas permintaannya sendiri. Selain empat senior, itu masih ada Abdul Malik dan Fuad Abdullah,” ujarnya.

Kedua saksi yang kala itu menjadi junior HMI mengungkapkan hal senada, bila rekeningnya pernah dipinjam para seniornya, hanya keduanya mengaku tidak mengetahui tujuan peminjaman rekening tersebut.

“Yang buat proposal itu, kami juga ndak tau, taunya sesudah diperiksa di kejaksaan. Kami memang kenal dekat dengan terdakwa (NH) karena sebagai senior,” tuturnya.

Sementara itu, dalam sidang pemeriksaan season pertama, Joko Suryanto mengaku dalam kegiatan pencairan dana bansos tersebut, dia bertugas sebagai ketua tim pengkaji. Adapun dasar sebagai tim pengkaji, diakuinya dibentuk berdasarkan SK Sekda Propinsi Jateng, Hadi Prabowo.

”Kita memang tidak melakukan kajian lapangan karena tidak ada anggaran. Dalam SK tersebut juga tidak disebutkan untuk melakukan kajian di lapangan,” ujarnya. (RS)

113
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>