Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Tim Gabungan TNI – Polri melakukan Simulasi Latihan Mitigasi Aksi Terorisme Integratif yang digelar Badang Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), di Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang, Rabu (31/10).

Berbagai aksi penanganan terorisme dipraktikkan tim gabungan itu, mulai dari aksi para teroris menyandera beberapa penumpang hingga adu tembak dan penanganan bom di lantai dua dan tiga terminal baru bandara tersebut.

Aksi para teroris ini diskenariokan meminta sejumlah uang dan meminta helikopter kepada pihak bandara untuk melarikan diri. Namun, dengan sigap tim gabungan TNI dan Polri yang sudah mengetahui gerakan tersebut berhasil mengggalkan.

Tim Gabungan TNI- Polri terlihat segap dan melakukan secara cepat dalam agenda yang digelar mulai pukul 10.00 WIB hingga 11.00 WIB.

Simulasi itu juga menunjukkan penyergapan dengan melibatkan anggota Polri, unit Brigif Raider dan unit satuan Bravo 90 Paskhas TNI AU. Selain juga ada tim nafis dan gegana yang melakukan penyisiran seusai penyergapan.

Selama semulasi itu berlangsung, tidak menggangu operasional bandara internasional itu dan tetap berjalan normal.

Kepala BNPT Komjen Suhardi Alius yang hadir dalam acara itu mengatakan bandara dilihat menjadi satu di antara area vital yang bisa menjadi target teror, dengan mengacu pada kejadian di bandara Belgia pada 2016 lalu.

“Bahkan tidak hanya bandara, pelabuhan dan terminal juga menjadi incaran teroris, serangan juga menyasar korban masif. Sebelumnya, kami juga sudah menggelar hal serupa di Palembang sebelum Asian Games berlangsung,”ujarnya.

Dia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terkait proses pencucian otak oleh teroris menggunakan media sosial, seiring kemajuan teknologi informasi digital begitu pesat menjadikan pencucian otak kelompok teroris bisa dilakukan melalui dunia maya.

“Saat ini dengan kemajuan teknologi informasi digital bisa dilakukan dengan online melalui medsos. Selama di dalam ruangan ada sinyal, mereka bisa mainkan pencucian otak dengan fasilitas digital itu,” tuturnya.

Namun demikian, dia juga meminta masyarakat dapat memberikan laporan jika ada konten yang mengajak ikut bergabung dalam ideologi teroris memanfaatkan media sosial.

Kondisi itu, menurutnya, yang juga menjadi faktor timbulnya lone wolf seperti peristiwa serangan bom di Surabaya.

Pencuian otak ini menimbulkan lone wolf, sehingga tidak hanya berkelompok lagi. Lone Wolf ini berinteraksi, dicuci ideologinya oleh konten-konten yang mereka akses. Kemudian berkumpul seperti di Surabaya.

“Hal itu sangat berbahaya, bahkan melibatkan anak i bawah umur dan satu keluarga,” ujarnya.

Bandara yang berskala Internasional memiliki sistem keamanan yang sudah terintegrasi antara Lanumad Ahmad Yani Puspenerbad dan Aviation Security, Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani.

Menurut Suhardi, posisi bandara menjadi strategis untuk mengantisipasi kejadian sejenis dan latihan tersebut merupakan gabungan dari sejumlah instansi dan kesatuan. (RS)

19
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>