Sebarkan berita ini:

1-Perlindungan Anak 1SEMARANG[SemarangPedia]  –  Komisi Nasional Perlindungan Anak (KNPA) menilai perbuatan hubungan seksual yang digilir secara bergantian oleh segerombolan anak-anak dan pemuda terhadap SR (12), siswa SD di Penggaron, Semarang, Jawa Tengah, dikategorikan sebagai kejahatan luar biasa (extra ordinary crime).

Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak, Aris Merdeka Sirait mengatakan perbuatan hubungan seksual yang digilir secara bergantian oleh sejumlah pemuda dikategorikan sebagai kejahatan luar biasa.

Menurutnya, seseorang yang melakukan tindak kejahatan seksual terhadap anak dibawah usia 18 tahun tidak dalam kategori sama-sama suka. Namun, klausul tersebut secara terang di atur dalam undang-undang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana minimal 10 tahun penjara dan maksimal 20 tahun.

“Dalam Undang-Undang tindak pidana kejahatan seksual dibawah usia 18 tahun tidak masuk dalam suka sama-sama suka saling cinta. Bukan, kejahatan cabul. Kasus ini merupakan perbuatan secara bersama-sama oleh gerombolan geng Rhei,” ujarnya di Semarang, Rabu (1/6).

Presiden Jokowi pun, lanjutnya, harus mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) terhadap kekerasan seksual anak. Langkah itu,  dilakukan menyusul maraknya kasus kejahatan seksual di berbagai wilayah Indonesia oleh gerombolan geng Rhei.

Menurutnya, kejadian kejahatan seksual yang dilakukan dewasa bersama-sama anak-anak merupakan fenomena. Dengan demikian, pihaknya menghimbau agar mewaspadai fenomena demikian secara ketat.

“Kondisi demikian, telah terjadi fenomena yang tidak hanya di Jateng. Melainkan, kasus yang terjadi hampir di seluruh Indonesia, termasuk kasus serupa di Pemalang,” tuturnya.

Sebagai upaya untuk memulihkan, dia menambahkan rasa trauma hilang dan psikis korban, Komnas Anak menggadeng sejumlah element, termasuk pegiat/ aktifis, psikiater dan dokter khusus, maupun Walikota Semarang.

Hingga kini, kondisi korban semakin membaik dan masih menjalani perawatan medis di Rumah Aman.

“Korban nanti harus didampingi secara khusus, baik pendidikannya, agar trauma hilang kembali normal yang menimpa korban, dan termasuk alternatif ekonomi bagi keluarganya,” ujar Sirait.

Dalam kasus ini, pihaknya mendorong aparat agar mengembangkan lebih dalam kasus itu secara obyektif. “Pak Kapolres janji tidak akan menutupi kasus ini. Beliau akan membuka secara terang-terangan, jika dua alat bukti terpenuhi,” tuturnya. (RS)

100
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>