Sebarkan berita ini:
ilustrasi
ilustrasi

SEMARANG [SemarangPedia] – Bulan puasa adalah bulan penuh dengan berkah. Karena penuh dengan keberkahan itu, al-Qur`an menggambarkan nilai kemuliaan bulan suci Ramadhan tersebut sebanding dengan seribu bulan. Tidak salah, kalau umat Islam selalu disergap rasa rindu menyambut kedatangan bulan suci itu dengan penuh kegembiraan yang biasa dirayakan dalam bentuk tradisi, apalagi mengingat bulan puasa itu hanya datang setahun sekali.

Salah satu tradisi menyambut puasa itu adalah tradisi dugderan. Tradisi ini adalah tradisi umat Islam Semarang dalam rangka menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan yang biasanya digelar kira-kira 1-2 minggu sebelum puasa dimulai. Karena sudah berlangsung lama, tradisi Dugderan ini pun sudah menjadi semacam pesta rakyat. Meski sudah jadi semacam pesta rakyat berupa tari japin, arak-arakan (karnaval) hingga tabuh bedug oleh Walikota Semarang, tetapi proses ritual (pengumuman awal puasa) tetap menjadi puncak dugderan

Dengan adanya musibah kebakaran pasar johar tahun 2015 lalu Ari Purbono Anggota Komisi B DPRD Kota Semarang menyarankan pada dinas pasar untuk tetap menyelengarakan tradisi dugderan walaupun kondisi pasar johar masih dalam pemulihan pasca kebakaran.

“Lokasi dugderan di kawasan johar khususnya disepanjang jalan agus salim akan tetap menarik masyarakat asalkan dikemas dengan lebih menarik,” katanya saat ditemui di Gedung DPRD Kota Semarang, Rabu (18/5).

Tradisi dugderan menurutnya, ini harus tetap dilaksanakan karena ini merupakan tradisi Kota Semarang yang datangnya setahun sekali menjelang bulan ramadhan tiba. “Memang untuk pelaksanaannya tidak semeriah tahun tahun sebelumnya, tetapi kalau dikemas secara bagus maka tradisi dugderan ini akan lebih meriah,” imbuhnya.

Apalagi hal ini sesuai dengan fisi misi kota semarang sebagai kota perdagangan dan jasa menuju sejahtera dan berbudaya. Menurutnya, ini merupakan wujud dari kota yang berbudaya sehingga diharapkan tetap diselengarakan.

“Terlebih tradisi dugderan sudah sangat mengakar di masyarakat semarang bahkan menjadi ciri khas kota ini, dalam apbd 2016 untuk pembiayaan dugderan juga sudah dianggarkan dan setiap tahun terus naik,” jelasnya.

Di tahun 2016 ini, Ari menjelaskan bahwa pelaksanaan dugderan sudah dianggarkan sekitar 500 juta rupiah atau naik 100 persen, sehingga sayang jika tidak digunakan. Mengenai lokasi pihaknya tidak mempersalahkan jika tetap di selengarakan di kawasan johar karena tidak mengubah pakem prosesi jalur dugderan.

“Hanya saja pemkot semarang harus melakukan inovasi dengan melibatkan berbagai stake holder seperti yang dilakukan di kota lama yang sebelumnya sepi dan sekarang jadi ramai,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, tradisi dugderan ini sudah di bawa di Rapat Koordinasi (Rakor) dengan Dinas terkait, pemuka agama dan para pengiat wisata beberapa hari yang lalu, intinya Tradisi Dugderan tahun ini harus tetap di laksanakan karena ini merupakan Tradisi Kota Semarang.

“Untuk rute kirab dugderan masih sama dari mulai Balai Kota Semarang, Masjid Agung Kauman dilanjutan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), walaupun nantinya dengan konsep yang sederhana tapi sebagai pemangku kebijakan Tradisi Dugderan tahun ini harus tetap dilaksanakan, saya rasa masyarakat Kota Semarang juga sudah menanti momen dugderan jika tidak dilakukan maka akan ada yang kurang saat menjelang bulan ramadan tiba,” pungkasnya.

180
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>