Sebarkan berita ini:

 

SEMARANG[SemarangPedia] – Pemkot Semarang bakal meniadakan kegiatan tradisi Dugderan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1441 H, sebagai upaya untuk pencegahan virus Corona atau Covi1-19.

Tradisi Dugderan yang biasanya rutin digelar lima hari menjelang Ramadhan itu meliputi karnaval, pasar malam dan seni budaya lainnya. Tahun ini tradisi itu ditiadakan akibat kondisinya sudah darurat Corona

DPRD Kota Semarang sangat menyatakan menyetujui dengan kebijakan Pemkot dengan meniadakan tradisi itu hingga tidak ada kerumunan massa, sebagai upaya untuk pencegahan virus Corona.

Sudah dikenal sejaka lama di Kota Semarang, Dugderan melekat sebagai tradisi menyambut datangnya bulan Ramadan yang dimeriahkan oleh pedagang gerabah, pedagang dari berbagai daerah berdatanganan. Dugderan menempati area dekat Masjid Agung Semarang (MAS) dan sekitar kawasan Pasar Johar.

Sekretaris Komisi D DPRD kota Semarang Anang Budi Utomo mengatakan pada prinsipnya tidak akan ada perayaan Dugderan dengan kegiatan karnaval seperti tahun-tahun yang lalu karena pandemi Covid-19.

Menurutnya, tanda kegiatan budaya bahwa bulan Ramadan dan umat Islam akan mulai melaksanakan ibadah puasa akan dikemas secara sederhana, tanpa pengumpulan massa.

Saat ini, lanjutnya, sedang dirancang oleh Pemkot. Paling tidak ada pemukulan bedug di Masjid Agung Semarang (MAS) dan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) sebagai pertanda besok dimulainya umat Islam menjalankan ibadah puasa.

Dia mengharapkan agar Pemkot Semarang bisa menyesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini.Bahkan ada imbauan untuk tidak melaksanakan shalat tarawih berjama’ah di masjid, agar physical distancing lebih terjaga.

“Kita upayakan tidak mengundang kerumunan massa, bila perlu diadakan penutupan jalan protokol. Intinya agar selalu ada evaluasi terhadap kebijakan, termasuk kemungkinan jalan-jalan protokol diperluas,£ ujarnya, Kjumat (3/4).

Senanda Anggota DPRD Kota Semarang dari Fraksi PDI Perjuangan Dyah Ratna Harimurti menuturkan kondisi saat ini Indonesia sedang dihadapkan dengan rasa prihatin.

“Pada saat ini, kita sedang prihatin, Ramadhan tetap harus disambut dengan suka cita, namun tidak harus ada kemeriahan, tradisi karnaval bisa dialih kan dengan yang lebih bersifat social care,” tutur Detty panggilan akrab Dyah Ratna Harimurti itu.

Seperti diketahui, adanya wabah virus Corona dan kebijakan pemerintah ke depan pasti akan banyak warga kota Semarang yang kehilangan mata pencaharian, ini tentunya sangat membutuhan perhatian lebih.

Masyarakat, tutur Detty, memang menyambut Ramadan dengan suka cita tapi pasti kegiatan semacam karnaval dan lain lain, tidak akan menarik perhatian warga saat ini, mengingat kegiatan dengan mengundang kerumunan massa saat ini sangat tidak relevan. (RS)

35
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>