Sebarkan berita ini:

4-Lepas Mudik1 SEMARANG[SemarangPedia] – Tradisi mudik Lebaran dengan pulang kampung dan merayakan hari kemenangan bersama seluruh anggota keluarga, hampir menjadi impian bagi semua warga daerah yang merantau di kota besar, seperti Jakarta dan lainnya.

Kegiatan yang menyenangkan di hari Lebaran itu, tidak setiap orang bisa melaksanakan, karena selain transportasinya sulit, ongkos yang harus dikeluarkanpun tidak sedikit. Bahkan cukup banyak di antara mereka harus tidur berhari-hari di terminal, stasiun maupun di pelabuhan laut hanya untuk mendapatkan tiket.

Namun, bagi Suparmin dan Rinto sebagai pedagang jamu tidak terjadi, karena mereka beruntung dapat pulang kampung bersama ribuan kawan seprofesinya dan pedagang asongan lainnya dengan mendapat ongkos gratis dari kegiatan mudik bareng yang diselenggarakan  PT Industri Jamu dan Farmasai SidoMuncul Tbk.

Ibarat dewa penolong, disaat dirinya kesulitan memperoleh angkutan mudik yang nyaman, juga kebutuhan ongkos yang tidak sedikit, masih ada perusahaan yang peduli mengantarkannya pulang kampung bersama 16.000 pedagang asongan, pedagang jamu gendong, pekerja dan buruh lainnya.

Pada mudik gratis yang digelar SidoMuncul ke-27 kali ini, diikuti oleh 16.000 peserta. Mereka akan menuju kampung halaman masing-masing dengan menggunakan armada 270 bus ke bebagai kota tujuan di Jawa Barat dan Jawa Tengah meliputi Cirebon, Tegal, Banjarnegara, Solo, Wonogiri, Semarang, Salatiga dan lainnya.

21-J Sofyan1Keberangkatan serentak dilaksanakan dari kawasan Museum Purna Bhakti Pertiwi Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jumat lalu. (1/7) dan dilepas oleh jajaran Direksi PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.

Suparmin dan Rinto penjual jamu yang sering mangkal di kawasan Celincing dan Cibinong, Jakarta itu, akhirnya dapat mewujudkan impiannya dengan merayakan hari kemenangan bersama keluarganya di kampung halamannya di Wonogiri dan Solo, di tengah ribuan orang perantuan di Jakarta yang kini masih kesulitan memperoleh tranportasi.

“Jatah tiket gratis, bisa digunakan untuk istri dan anaknya atau membeli oleh-oleh. Tiket ini diperoleh tanpa ada syarat apapun,” tutur Suparmin.

Kedua lelaki itu berhitung untuk membeli tiket ke Wonogiri bertiga dengan anak istri minimal butuh uang Rp500.000. Tapi dengan tiket gratis ini uangnya bisa dialihkan untuk keperluan lain.

”Lumayan, ongkos mudik bisa buat beli oleh-oleh atau untuk penambahan modal usaha jamu, yang setiap harinya hanya memperoleh keuntungan relatif kecil hanya sebesar Rp30.000 per hari,” ujarnya kepada SemarangPedia.com.

Nasib kedua pedagang jamu itu juga serupa yang dialami Sunarti penjual jamu gendong keliling di bilangan Jatiwaringi, Jakarta Timur. Seharian dia berkeliling keluar masuk kampung hanya mampu meraih keuntungan sekitar Rp20.000 sampai Rp25.000 per hari.

Ibu tiga orang anak berasal dari Sukoharjo itu menururkan dengan mudik gratis banyak keberuntungan yang diperoleh, karena ongkos tiket pulang dapat digunakan untuk membeli keperluan bahan baku jamu dan sisanya untuk biaya sekolah anaknya.

Enaknya lagi, dalam satu bis dia bisa ketemu dengan teman sesama profesi yang berjualan jamu di Bogor, Tangerang, Depok, Jakarta dan Bekasi. Setidaknya jika kumpul dengan teman seprofesi mereka bisa saling tukar pengalaman dan informasi.

Tidak hanya itu, sebelum keberangkatan mereka senang dapat dihibur oleh para bintang iklan SidoMuncul seperti Donny Kesuma, Vega Darwanti dan artis lainnya.

4-Irwan Bus1Ketiga penjual jamu dengan kondisi ekonomi pas-pasan, pada akhirnya bisa menikmati Lebaran bersama keluarga tanpa harus dipusingkan oleh sulitnya mendapatkan transportasi. ”Semoga semakin banyak perusahaan yang peduli kepada rakyat kecil dengan menyediakan angkutan mudik gratis,” tutur Sunarti yang telah merantau sebagai penjual jamu belasan tahun di Jakarta itu.

Bayangkan saja. Jutaan orang tiba-tiba mau pulang kampung dalam waktu hampir bersamaan. Padahal moda angkutan yang tersedia tak mungkin memberangkatkan demikian banyak manusia sekaligus. Maka yang terjadi hukum pasar, orang berebut mencari angkutan umum. Kalau pun dapat harga tiketnya sudah membumbung tinggi.

Kondisi inilah yang dilihat sejumlah perusahaan sebagai peluang untuk meraih simpati dari publik dengan menggelar mudik gratis, sekaligus sebagai ajang promosi sepanjang perjalanan dan di berbagai terminal, stasiun maupun pelabuhan laut.

Tapi setidaknya bisa meningkatkan image perusahaan. Lantaran itulah perusahaan seperti PT Sido Muncul, sejumlah BUMN, BUMD, Pemda, Partai dan beberapa Instansi lainnya ramai- ramai menggelar program mudik gratis.

Ratusan bus dikerahkan sejumlah perusahaan tersebut dengan jadwal pemberangkatan yang berbeda untuk mengangkut para pedagang asongan. Perusahaan jamu PT SidoMuncul yang sejak 1991 menjadi pionir penyelenggara mudik gratis kini mengerahkan sebanyak 270 bus berkapasitas sebanyak 16.000 penumpang.

Mungkin semua orang akan berpikir, apa keuntungan yang diperoleh perusahaan dengan menggelar program yang cukup besar biayanya itu. Sedangkan dana yang dikeluarkan mereka tidak hanya jutaan, bahkan miliaran rupiah untuk menyewa bus dan sebagainya.

Kalau harga sewa satu bus saja Rp5 juta, berarti perlu setengah miliar untuk pengeluaran pembayaran sewa 100 armada bus. Imbal balik langsung, bisa dikatakan hampir tidak ada, hanya meningkatkan image perusahaan.

Bagaimana tidak? Bus-bus itu hanya ditempeli spanduk, tapi tidak pernah terpublikasi secara luas.

Menurut Dirut PT SidoMuncul Sofyan Hidayat progam mudik gratis ini merupakan bagian dari bentuk kepedulian sosial yang sudah seharusnya diberikan perusahaan kepada lingkungannya dan sebagai kewajiban memenuhi ketentuan Corporate Social Responsiblity (CSR).

Mudik gratis pertama kali yang diadakan oleh SidoMuncul pada 1991 dan secara terus menerus dilaksanakan hingga tahun ini merupakan yang ke-27 tahun.

Ide mudik gratis ini muncul dari Sofyan Hidayat yang pada saat itu belum menjabat sebagai Dirut PT SidoMuncul, dan tahap awalnya hanya menyediakan armada 17 bus, kemudian bertambah dari tahun-ketahun.

Selama tiga tahun, dari 1991 sampai tahun 1993 acara mudik ini diselenggarakan secara sederhana. Tidak ada acara apapun ,tak ada upacara serimonial, tak ada pejabat pemerintah yang melepas para pemudik . Yang mewakili direksi melepas para pemudik selama tiga tahun adalah Kris Irawan, marketing manajer Sidomuncul pada waktu itu

“Ide mudik gratis ini karena SidoMuncul ingin memberi insentif pada para penjual jamu, ” ujar Sofyan Hidayat.

Mulai 1994 acara mudik gratis diorganisir serius, dengan mengadakan acara hiburan sebelum pemudik berangkat, memasang promosi berbagai produk Sidomuncul pada kabin bus, mengundang pejabat untuk melepas para pemudik serta melibatkan wartawan untuk mempublikasikan acara mudik gratis itu.

Menurut Sofyan, selama pemudiknya ada dan perusahaan mampu untuk memudikkan gratis, kegiatan itu akan terus dilaksanakan, Bahkan tahun lalu Sidomuncul memberangkatkan armada 300 bus  dan tahun ini mengerahkan 270 bis dan jumlah pemudik sekitar 16.000 orang.

“Penurunan penyediaan armada bus itu, karena masyarakat sudah tambah makmur, pembangunan di daerah juga  maju serta perusahan swasta , BUMN, BUMD, Pemda dan Partai yang melakukan mudik gratis semakin banyak,” tutur Sofyan Hidayat.

Menurut Irwan Hidayat Direktur Marketing PT SidoMuncul,  pada acara mudik gratis yang ke 27 ini, SidoMuncul memanfaatkan untuk memberikan edukasi pada para pemudik untuk ikut mendukung program Kementrian Lingkungan Hidup melestarikan dan peduli lingkungan.

Disetiap tempat duduk bis dipasang stiker komik yang isinya mengajak para pemudik supaya ikut peduli lingkungan dengan memilah sampah plastik dengan sampah makanan (organik ).

4-Mudik Bareng1Dengan memakai komik sebagai komunikasi diharapkan mereka mudah memahami dan mau ikut berpartisipasi dalam menjaga lingkungan. “Kita harus membantu pemerintah untuk menjaga lingkungan. karena melestarikan lingkungan sama pentingnya dengan membangun perekonomian dan supaya berhasil dibutuhkan partisipasi masyarakat,” tutur Irwan.

SidoMuncul adalah perusahaan yang didirikan pada 1951 oleh Ny, Rahmat Sulistiyo dan menjadi perusahaan Tbk pada 18 Desember 2013. Perusahaan yang berbasis di Bergas, Klepu, Kabupaten Semarang itu bergerak dalam obat herbal .

Sekarang ini SidoMuncul di kelola oleh generasi ketiga terdiri Irwan Hidayat, Sofyan Hidayat, Sigit Hartoyo, Johan Hidayat dan David Hidayat. Sebagai perusahaan Tbk SidoMuncul juga dikelola oleh beberapa profesional dan seorang komisaris independen.

“Bagi seluruh keluarga besar SidoMuncul bisa melakukan mudik gratis selama 27 tahun adalah sebuah mukjizat,” ujar Irwan yang merupakan kakak kandung Sofyan Hidayat itu.

 

174
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>