Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Universitas Negeri Semarang (Unnes) bagikan Strategi menulis artikel di Jurnal Ilmiah Bereputasi melalui pengalaman sejumlah dosen dalam webinar Pendidikan dan Pelatihan Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah edisi ke-4 yang digelar, Senin (29/6)

Dosen Unnes yang juga reviewer jurnal Farid Ahmadi MKom PhD berbagi strategi menulis artikel di jurnal ilmiah bereputasi dengan membagikan pengalamannya .

Selain Farid, editor dan reviewer jurnal Hamidulloh Ibda juga didapuk sebagai pembicara. Puluhan guru-pelajar Ma’arif, dosen dan masyarakat luas turut menyimak kegiatan webinar tersebut.

Farid mengatakan beberapa strategi publikasi dan dimuat di jurnal ilmiah bereputasi, harus ada keunikan dan kualitas karya agar berpeluang dapat dimuat.

Pengurus Pusat ISNU itu menambahkan bahwa untuk jurnal terindeks Scopus, perlu menggandeng penulis lain yang sudah H indeks tinggi.

Menulis artikel ilmiah, lanjutnya,  agar tembus Scopus harus menggandeng penulis lain, jangan satu author. Baik itu pembimbing, orang yang terlibat dalam penelitian atau orang yang pakar Bahasa Inggris yang bisa diajak kerja sama untuk mentranslate artikel, misalnya memang tidak bidangnya Bahasa Inggris, itu bisa jadikan partner author dalam artikel.

“Apalagi kita mengajak mereka yang jurnal Scopusnya banyak, pasti lebih dipertimbangkan, beber Koorprodi S2 Pengembangan Kurikulum dan Koorprodi S2 Pendidikan Luas Sekolah Pascasarjana Unnes tersebut,” ujar dosen yang memiliki 11 dokumen artikel terindeks Scopus itu.

Pihaknya juga menjelaskan anatomi artikel sesuai kaidah penulisan umum. Usahakan jurnal atau literatur yang rujuk itu bereputasi, dan lima tahun terakhir, karena itu menjadi pertimbangan dimuat atau tidak.

Sementara itu, Hamidulloh Ibda menuturkan beberapa strategi publikasi di jurnal ilmiah.  Di antaraya  tulislah artikel ilmiah sesuai disiplin ilmu, karena editor atau redaksi jurnal mempertimbangkan kepakaran penulis, bahkan juga disinkronkan dengan akun Google Scholar miliknya.

“Kalau bidang kita sastra, ya tulislah dan telitilah sastra, jangan memaksa menulis tentang inklusi, meski bisa kita menulis dengan variabel keduanya,” tutur Kaprodi PGMI STAINU Temanggung itu.

Selain itu, menurutnya, baca dan taat author guidelines, pedoman penulisan atau gaya selingkung di setiap jurnal yang dituju. Kalau di sana memakai APA Style, ya artikel menyesuaikan jangan memakai Chicaho, SPA, atau Harvard Style, lanjut editor Jurnal ASNA tersebut.

Bahkan, lanjutnya, artikel Anda harus berkualitas dan harus ada kebaruan atau novelty. Misal, kalau sudah ada kerupuk rasa udang, maka Anda bisa membuat kerupuk rasa durian, yang seperti ini pasti menarik.

“Tidak hanya itu, artikel harus bebas plagiasi atau similarity. Ketika sudah submit, editor atau redaksi jurnal itu tidak peduli siapa penulisnya, apa sudah doktor, profesor apa belum, yang penting ketika dicek similarity kok di atas 30%,” ujar  reviewer JRTIE IAIN Pontianak itu.

Dia menuturkan silakan sitasi rujukan bereputasi, bahkan artikel dari jurnal yang Anda tuju. Dan etika ada review langsung kerjakan revisiannya, sebelum dateline yang ditentukan.

“Rajin-rajin lah login di OJS jurnal itu untuk mengecek kemajuan jurnal, dan utamakan berdoa kepada Allah sang penentu kehidupan. Sesuai rencana, tindaklanjut dari webinar GLM itu akan dijadikan forum pendampingan lewat peminatan yang sudah direncanakan panitia,” tutur penulis buku Guru Dilarang Mengajar! tersebut. (RS)

6
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>