Sebarkan berita ini:

9-FDS1SEMARANG[SemarangPedia] – Sejumlah Kepala Daerah dan para praktisi pendidikan kurang mendukung adanya wacana kebijakan Mendikbud tentang Full Day School (FDS), karena semua siswa tidak bisa disama ratakan.

Imam Robandi praktisi pendidikan dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya mengatakan Indonesia sekarang membutuhkan terapi, dan apa yang diwacanakan Mendikbud Muhajir Efendy  sebenarnya merupakan terapi dan sindiran kepada para orang tua yang tidak bisa mendidik anaknya.

Namun, lanjutnya, sindirian itu tidak bisa digebyah uyah, tapi harus dilakukan secara segmented.

“ Kalu orang tua tidak bisa membina, mendidik dan menanamkan nilai-nilai ke anaknya, disekolahan yang akan mengajari mereka,” tuturnya kepada semarangpedia.com Selasa. (9/8)

Menurut dia, pihaknya telah melakukan diskusi tentang full day school  sejak 2002 hingga 2007,  dan hasilnya penerapan FDS hanya dapat untuk orang tua yang tidak dapat membina anaknya, peran orangtua terhadap anak yang minim, sistem lingkungan tempat tinggal yang kacau balau.

“Penerapan FDS ini harus segmented tidak bisa di generalisir, dan bisa diterapkan bagi orang tua yang tidak peduli terhadap anak. Namun, bagi mereka yang kehidupannya teratur sangat memperhatikan anaknya kebijakan itu tidak tepat,” ujarnya.

Dia menuturkan pihaknya juga tidak menjustifikasi sistem FDS tepat apa tidak, tetapi memang sangat kondisional, mengingat  full day school menggeser nilai rumah ke sekolah.

Orang tua kebagian berkumpul pada Sabtu dan Minggu, sehingga untuk kondisi rumah dan lingkungannya yang tidak harmony, maka full day school dapat menjadi andalan. Dengan catatan di sekolah sudah terjadi atmosfir akademik yang harmony.

 full day school itu hanya milik orangtua yang malas, sehingga tidak sedikit dari mereka yang menitipkan anaknya pada sekolah-sekolah hingga sore hari, bahkan pembinaan maupun ilmu yang dimiliki orang tua tidak bisa diturunkan kepada anaknya dan hanya mengenyam pendidikan dari guru-guru sekolah,” tuturnnya.

Dia memberikan contoh salah satu faktor pemicu mengapa orang tuanya berhasil membangun sebuah bisnis, namun ketika bisnis itu diturunkan ke anaknya justru usaha itu tutup dan hancur,  karena mereka tidak memiliki value seperti yang dimiliki oleh orang tuanya.

Value yang mereka miliki itu harus ditanamkan sejak kecil dan dilakukan secara rutin, sehingga dapat menular ke anak-anak mereka” tuturnya.

FDS, dia menambahkan sangat tepat jika diterapakan untuk sekolah-sekolah yang gratis, karena umumnya siswanya sebagian besar memiliki orang tuanya kurang mampu memberikan value untuk anak mereka.

8-FDSSeperti diketahui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Efendy mewacanakan Full Day School untuk pendidikan dasar SD dan SMP hingga anak setelah puloang sekolah tidak sendiri di rumah ketika orangtua mereka masih bekerja.

Selain itu, rencana kebijakan tersebut  bisa menyamakan kepulangan sekolah dengan kepulangan bekerja, sehingga bisa berada di rumah bersama serta tetap dalam pengawasan orang tua.

Wacana itu juga menyebutkan jika anak-anak tetap berada di sekolah, mereka bisa menyelesaikan tugas-tugas sekolah dan mengaji hingga dijemput orang tuanya seusai jam kerja.

Melalui sistem Full day school ini, secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi ‘liar’ di luar sekolah ketika orang tua mereka belum pulang kerja.

Namun, gagasan Mendikbud itu kini semakin santer menuai kritikan dari beberapa kalangan termasuk kepala daerah, praktisi pendidikan dan tokoh masyarakat lainnya.

Diketahui sejumlah kepala daerah di antaranya Bupati Purwakarta menolak penerapan Full day school, karena tidak semua orang tua sibuk dengan pekerjaannya seperti daerah perkotaan.

Sementara Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga meminta agar  full day school  yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dikaji lagi, sebagai upaya menghindari terjadinya polemik di kalangan masyarakat.

Menurutnya, penerapanan itu kalau diperkotaan bisa dilakukan tapi dipedesaan bisa menimbulkan polemik baru.

Sistem FDS, lanjutnya, mendekati sistem sekolah lima hari yang dengan harapan pada akhir pekan bisa saling berinteraksi antar anggota keluarga.

Asrorun Niam Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) senada meminta kepada pemerintah untuk mengkaji ulang FDS, mengingat siswa yang satu dengan lainnya tidak bisa disama-ratakan serta menghabiskan waktu seharian di sekolah juga dapat mengganggu intensitas interaksi anak.

“Mereka membutuh bergaulan dengan teman-teman mereka diluar sekolah dan sanak saudaranya,” tuturnya.(RS)

 

186
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>