Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Liburan panjang akhir pekan ini ratusan wisatawan memadati wisata religi Kelenteng Sam Poo Kong yang terletak di Gedungbatu Semarang, mereka datang dari berbagai daerah.

Wisatawan yang berdatangan tidak hanya menggunakan mobil pribadi, tetapi mereka juga menggunakan minibus dan bus-bus pariwisata, hingga pelataran parkir kelenteng peninggalan Laksamana Cheng Ho dipenuhi kendaraan.

Doni Setiawan salah satu pengunjung tak mampu membungkus rasa kagum, saat memasuki kompleks Kelenteng Gedungbatu Semarang, Minggu siang (23/4). Agaknya, dia terkesima melihat bangunan-bangunan baru yang tegak menjulang di dalam kompleks kelenteng terbesar di Semarang itu.

”Saya hampir-hampir tak lagi mengenali tempat ini. Dulu bangunannya masih sederhana, sekarang kok sudah semegah seperti ini,” tuturnya.

Wajar saja kalau Doni terpana, sebab kali terakhir dia datang ke tempat itu pada 1989. Selama itu, lelaki yang kira-kira berusia 50 tahunan itu bermukim di Jerman. Kedatangannya di Semarang kali ini untuk menghadiri pernikahan keponakannya. Datang bersama keluarganya.

Sedikit punya waktu, dia pun mengunjungi Gedungbatu. Maka tak terelakkan, pembangunan besar-besaran yang dilakukan di kelenteng tersebut menjelang Perayaan Pendaratan Cheng Ho di Semarang beberapa waktu lalu membuatnya terkagum-kagum.

”Sayang, kami di sini cuma dua minggu. Jadi tidak bisa menyaksikan perayaan Laksamana Cheng Ho, setuap Agustus,” ujarnya.

Ya, pembangunan kelenteng induk, makam Kiai Juru Mudi Dampoawang, gedung penginapan, gapura di sisi selatan, dan beberapa titik yang lain memang serta-merta mampu merubah wajah kompleks Kelenteng Gedungbatu tersebut.

Kelenteng Sam Poo Kong dan Laksamana Cheng Ho ibarat dua keping mata uang. Berbicara soal pendaratan Laksamana Cheng Ho di Semarang, tentu tak bisa lepas dari kelenteng yang populer dengan sebutan Gedungbatu tersebut. Sebab, konon, Kelenteng Gedungbatu merupakan peninggalan bahariwan muslim itu.

Tak heran, jika setiap peringatan Pendaratan Laksamana Cheng Ho menetapkan kelenteng terbesar di Kota Semarang itu sebagai lokasi puncak perayaan, yang jatuh setiap Agustus.

Setiap puncak perayaan itu pasti digelar kirab Sam Poo dari Kelenteng Tay Kak Sie Jl Gang Lombok ke Kelenteng Gedungbatu disertai iring-iringan pawai pasukan Cheng Ho, pasukan berkuda dari Keraton Surakarta dan kendaraan hias.

Menurut Ketua Yayasan Kelenteng Gedungbatu Priyambudi,  Kelenteng Gedungbatu kini telah dikembangkan menjadi objek wisata religius. Meski tidak akan memprofitkannya. Pihak kelenteng tidak pernah berpikir menarik biaya masuk kepada para pengunjung, sebab hal itu tidak sesuai dengan prinsip yang mereka anut.

Dia menuturkan kisah sejarah yang meliputi Kelenteng Gedungbatu merupakan salah satu hal yang bisa dijadikan daya tarik. Hal yang bisa dikedepankan, pelayaran muhibah Cheng Ho, pendaratan Cheng Ho di Simongan, peran Wang Jing Hong dalam pengembangan daerah Gedungbatu. Selain itu, peran Cheng Ho dan Wang Jing Hong dalam penyebaran Islam, hingga kepindahan masyarakat Tionghoa dari Simongan ke Pecinan.

Langkah yang bisa dilakukan adalah membangun rute wisata yang terprogram dengan objek lain di Semarang. Dengan begitu, terbuka kemungkinan akan tumbuhnya kegiatan pendukung wisata di sepanjang rute tersebut.

Salah satu peninggalan Cheng Ho yang masih dapat dilihat saat ini di Semarang berupa sumur dan tempat ibadah (Klenteng Sam Po Kong di Gedong Batu). Cheng Ho atau dikenal juga dengan nama Sam Pop Tay Jin diyakini sebagai orang China pertama yang mendarat di Semarang.

Dalam kurun waktu pelayarannya tahun 1405-1433, Cheng Ho pernah singgah di Kerajaan Samudra Pasai dan menghadiahkan lonceng raksasa Cakrado kepada Sultan Aceh, yang hingga kini masih disimpan di Museum Banda Aceh. Cheng Ho juga pernah bersandar di Pelabuhan Muara Jati (Cirebon) pada tahun 1415. Beberapa cenderamata persembahan Cheng Ho kepada Sultan Cirebon berupa piring bertuliskan ayat-ayat Al Quran saat ini masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon.

133
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>