Sebarkan berita ini:

15-sidangSEMARANG[SemarangPedia]  – Theodorus Yosep Parera, penasehat kukum Peni Suprapti, terdakwa dugaan kasus penyelundupan narkoba jenis sabu seberat 97 kilogram di Jepara menilai dakwaan Jaksa Penuntut Umum Kejari Semarang kabur (obscur libel) dan tidak cermat.

Dalam nota keberatannya, Yosep menerangkan dakwaan penuntut tidak bisa menguraikan perbuatan pidana secara cermat. Perbuatan terdakwa terkait penyerahan uang untuk melakukan pembayaran-pembayaran bersama suaminya, Muhammad Riaz alias Mr. Khan merupakan perbuatan seorang istri sah yang menuruti permintaan suaminya. Terlebih, terdakwa juga tidak mengetahui betul soal penyelundupan shabu yang dilakukan oleh suaminya, Mr. Khan.

“Dalam dinamika kejahatan narkotika yang terjadi Indonesia seringkali melibatkan perempuan WNI yang dijadikan alat oleh warga asing dalam menjalankan bisnis narkotika. Dalam hal ini, terdakwa dan perempuan-perempuan lainnya menjadi korban kejahatan narkotika. Meski demikian, mereka harus turut menanggung akibatnya dengan hukuman mati atau seumur hidup,” ujar Yosep saat menyampaikan nota keberatan (eksepsi) di sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Semarang, Kamis (14/7).

Untuk itu, Yosep meminta keoada majelis hakim supaya menolak dakwaan jaksa penuntut umum dan menerima eksepsinya.

Sementara itu, Hakim Ketua Sigit Hariyanto didampingi Faturrochman dan Wismonoto mempertanyakan keabsahan nota dakwaan yang dibacakan oleh JPU dalam sidang.

Menurutnya, nota dakwaan yang dibacakan oleh JPU berbeda dengan dakwaan yang diterima oleh majelis hakim seminggu sebelum sidang.

“Saya berpedoman kepada KUHAP, dan mempertanyakan perbedaan surat dakwaan jaksa dan yang saya terima. Jadi, menurut saya, dakwaan yang saya terima inilah yang harusnya dibacakan,” tutur Sigit kepada Jaksa.

JPU Meiyana Dwi Maya dalam sidang mendakwa Peni Suprapti dengan pasal berlapis yakni, dakwaan primer pasal 114 ayat (2) jo pasal 132 ayat (1) Undang-undang RI No 35 tahun 2009 tentang narkotika. Kemudian dakwaan subsider pasal 113 ayat (2) jo pasal 132 ayat (1) dan lebih subsider pasal 112 ayat (2) jo pasal 132 ayat (1) undang-undang yang sama.

Jaksa menilai keterlibatan terdakwa dalam kasus tersebut adalah menyerahkan uang kepada CV Jepara Raya International bersama suaminya, Mr. Khan secara bertahap, yakni Oktober 2014 sebesar Rp. 12 juta, Desember sebesar Rp. 38 juta dan pada Januari 2015 uang sebesar Rp. 44 juta.

“Terdakwa Peni Suprapti mengetahui suaminya Muhammad Riaz alias Mr. Khan telah mengimpor furniture dari Pakistan ke Indonesia melalui Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, yang selanjutnya dibawa ke gudang di Jepara di Desa Rt 07 Rw 02 Kec. Batealit Kabupaten Jepara,” ujar Meiyana dalam dakwaannya.

Sidang akan ditunda dengan agenda tanggapan atas eksepsi pekan depan. (RS)

136
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>